Pakar Ungkap Risiko Ekstrem Penyelam Evakuasi Korban KM Virgo

21 September 2026 21:58

Pencarian terhadap 123 korban hilang dari tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa masih terus berlanjut. Hingga kini, tim SAR gabungan mencatat 108 korban selamat dan 12 korban meninggal dunia. Tiga dari dua belas jenazah tersebut baru berhasil dievakuasi hari ini oleh tim penyelam dari dalam badan kapal yang terbalik.

Operasi bawah air ini menghadapi berbagai tantangan berat dan risiko tinggi. Pendiri Indonesia Divers Rescue Team, Bayu Wardoyo, menjelaskan bahwa tim dari Basarnas Special Group (BSG) harus menerapkan prosedur keamanan yang sangat ketat karena kondisi di dalam bangkai kapal dinilai berbahaya bagi penyelam.

Menurut Bayu, ketika sebuah kapal karam dan dipenuhi air, penyelam tidak bisa langsung masuk ke dalam lambung kapal. Mereka terhalang oleh puing-puing atau barang-barang yang mengambang. Selain itu, risiko paparan zat berbahaya juga mengancam keselamatan tim penyelamat.
 



"Waktu kita lihat ketika kaca dipecahkan, itu terlihat ada kotoran yang keluar. Itu bisa jadi berupa bahan bakar atau apa pun yang terperangkap di dalam kapal. Oleh karena itu, saat ini operasi difokuskan pada penetrasi luar, yakni penyelam hanya menjangkau titik-titik yang tidak berbahaya. Keselamatan rescuer tetap yang paling utama," jelas Bayu Wardoyo dalam dialog Metro Hari Ini, Metro TV, Senin 21 September 2026. 

Mengingat bangkai kapal berada di kedalaman sekitar 30 meter dengan dimensi yang besar dan bersekat-sekat, penyelam BSG menggunakan peralatan khusus yang berbeda dari penyelaman rekreasi. Mereka dilengkapi tangki udara ganda, masker full face, dan pakaian pelindung khusus untuk mengantisipasi risiko medis.

"Ketika kita melakukan pengambilan jenazah yang sudah berada di air lebih dari satu minggu, tentu akan ada kontaminasi bakteri. Kita tidak mau tim yang melakukan penyelaman ini juga ikut terkontaminasi," papar Bayu.

Bayu juga mengungkap tantangan lain yakni posisi bangkai kapal Virgo Transport 8 di dasar laut belum sepenuhnya stabil. 

"Ada kemungkinan bodi kapal ini bergerak atau bergeser. Jika itu terjadi, akan sangat berbahaya karena penyelam bisa terperangkap di dalam. Maka dari itu, mereka di bawah tidak sendiri, ada sistem tandem dan tim yang standby di atas," ungkap Bayu.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X