7 August 2026 21:04
Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menceritakan perjalanan hidupnya yang bermula dari keluarga sederhana di Papua. Dalam acara peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri, di Jakarta, ia mengenang sosok ayahnya yang merupakan seorang tukang batu, hingga kini menjadi menteri sekaligus Ketua Umum Partai Golkar.
"Tidak pernah terbersit sedikitpun saya yang tinggal di Papua akan berada di jantung negara, Ibu Kota Jakarta. Dan ikut diberikan kesempatan oleh Presiden ke-7 Bapak Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden ke-8 Bapak Presiden Prabowo untuk menjadi anggota kabinetnya," ujar Bahlil dalam tayangan Breaking News Metro TV, Jumat 7 Agustus 2026.
Bahlil mengenang perjuangannya agar dapat bersekolah. Keluarganya harus bekerja keras dengan berjualan kelapa dan kue. Bahkan keluarganya pernah mengalami kondisi kekurangan pangan.
"Jujur dalam hidup saya tidak pernah melintas, jangankan cita-cita atau mimpi, melintas pun tidak ada. Demi Allah saya harus menyampaikan ini. Kenapa saya katakan ini, bahwa kami di Papua setiap hari harus bekerja keras, karena keluarga saya keluarga sederhana," katanya.
Bahlil mengungkapkan sang ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sementara ayahnya merupakan tukang batu dengan penghasilan sekitar Rp1.500 per hari. Kondisi tersebut justru menjadi bagian penting dalam membentuk karakter dan prinsip hidupnya.
"Saya dilahirkan dari rahim kandungan wanita yang pembantu rumah tangga. Bapak saya adalah seorang tukang batu yang gajinya sehari hanya Rp1.500. Tapi anak dari pembantu rumah tangga dan tukang batu hari ini berdiri di depan Presiden Indonesia dan menjadi Ketua Umum Partai Golkar," ujar Bahlil.
Ia menilai kerja keras, konsistensi, komitmen, loyalitas, dan kesetiaan menjadi modal penting dalam perjalanan hidupnya. Menurutnya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti memperjuangkan tujuan.
"Karena bagi saya kalau kita orang timur bicara ganteng, mohon maaf pasti lebih ganteng orang di daerah-daerah Jakarta ini. Bicara gagah mereka lebih gagah, bicara cerdas mungkin karena pendidikannya mereka lebih duluan pasti lebih cerdas. Yang kita punya tinggal apa? Kesetiaan, loyalitas dan komitmen," tuturnya.