9 Orangutan Diselamatkan dari Karhutla di Ketapang dalam Sebulan

3 September 2026 13:52

Ketapang: Sebanyak sembilan orangutan telah diselamatkan dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, dalam satu bulan terakhir. 

Senior Manager Media dan Komunikasi Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) Heribertus Suciadi mengatakan, tujuh orangutan telah diselamatkan hingga akhir Agustus 2026. Sementara dua orangutan lainnya sedang dalam proses evakuasi.

“Kalau per hari ini kalau di berita tadi kan tujuh ya, kalau di sekarang pagi ini kita lagi proses rescue untuk dua orangutan induk-anak juga di Ketapang. Jadi total sudah sembilan dalam waktu satu bulan,” kata Heribertus dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Kamis 3 September 2026.

Menurut Heribertus, masih terdapat sejumlah orangutan yang berada dalam pemantauan tim gabungan YIARI dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat. Pemantauan dilakukan di tujuh desa yang menjadi wilayah terdampak atau berpotensi terdampak karhutla.

“Di situ ada beberapa orangutan juga yang berpotensi terdampak, cuma sepanjang ini masih kita pantau,” ujarnya.

Tim tidak langsung mengevakuasi setiap orangutan yang ditemukan keluar dari habitatnya. Kondisi sekitar terlebih dahulu dinilai menggunakan drone dan citra satelit.

“Kita lihat dulu kondisi sekitarnya. Bisa melalui drone atau juga melalui citra satelit. Kita assessment juga apakah aman kalau dibiarkan di situ ataukah misalnya kita bisa giring atau drive back balik ke habitatnya,” jelas Heribertus.

Jika orangutan tidak memungkinkan dikembalikan ke habitatnya, tim akan melakukan operasi penyelamatan dengan melibatkan dokter hewan. Orangutan dibius untuk memudahkan proses evakuasi dan pemeriksaan kesehatan.

“Kalau ternyata tidak bisa dibalikan lagi ke habitatnya, kita gunakan operasi rescue. Jadi kita ajak dokter hewan untuk bius karena orangutan liar,” katanya.

Sebagian besar orangutan yang diselamatkan mengalami kondisi relatif aman untuk dilepasliarkan. Namun, beberapa di antaranya mengalami dehidrasi sehingga harus mendapatkan infus dan pemantauan sebelum dikembalikan ke alam.

“Ketika ditemukan secara umum sebenarnya masih aman untuk bisa dilepasliarkan, hanya saja beberapa itu mengalami dehidrasi. Jadi kami beri infus dulu,” ujar Heribertus.

Untuk orangutan yang kondisinya sehat, tim umumnya melepasliarkan mereka di Taman Nasional Gunung Palung. Kawasan tersebut dinilai aman dari kebakaran dan berada dalam kawasan konservasi.

“Kebanyakan dibawa ke Taman Nasional Gunung Palung karena itu lokasi yang aman, tidak ada yang kebakaran dalam taman nasional,” katanya.

Heribertus menegaskan, ancaman terhadap orangutan tidak berhenti ketika api padam. Berdasarkan pengalaman kebakaran besar pada 2015 dan 2019, penyelamatan masih dapat berlangsung berbulan-bulan setelah kebakaran berakhir.

Rescue akan masih ada bahkan beberapa bulan setelah api padam, setelah hujan. Karena ketika api padam tapi orangutan ini kan sudah terlanjur kehilangan tempat tinggal, mereka biasanya akan datang ke kebun warga untuk cari makan dan tinggal di situ,” jelasnya.

Karhutla juga membuat orangutan kehilangan sumber makanan, tempat berlindung, serta jalur pergerakan. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan orangutan terhadap konflik dengan manusia.

“Tidak ada lokasi aman lagi untuk mereka,” ungkap Heribertus.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X