Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla untuk menembus blokade ilegal Zionis Israel di Jalur Gaza kembali dilanjutkan. Meskipun sempat diwarnai aksi pencegatan kekerasan dan penculikan terhadap 170 aktivis di perairan internasional, semangat para pejuang kemanusiaan ini tidak surut. Bertempat di kota pelabuhan Marmaris, Turki, para aktivis yang sempat dibebaskan kini kembali berkumpul untuk meneruskan misi, termasuk Silas Beaver, warga negara Amerika Serikat yang menjadi saksi kunci kekejaman pasukan IDF.
Silas menceritakan detik-detik mencekam saat kapalnya diintersep oleh pasukan Zionis saat tengah malam. Meskipun kapal-kapal Flotilla mencoba melaju cepat menuju perairan nasional Yunani untuk mencari perlindungan hukum, pasukan Israel mengepung mereka menggunakan drone dan kapal cepat.
"Sebuah kapal hitam mendekat dan menyorotkan lampu spotlight besar ke arah kami, memerintahkan kami untuk berhenti. Ketika kami tetap melaju, enam tentara naik ke atas kapal dengan senapan yang dilengkapi pembidik laser. Mereka mengarahkan senjata itu tepat ke arah kami yang sedang duduk di kokpit," ungkap Silas.
Penyiksaan dan Intimidasi di Area Penahanan
Setelah menguasai kapal, pasukan Israel melakukan penggeledahan yang merendahkan martabat. Silas mengaku dipaksa melepas sebagian besar pakaiannya dan digeledah oleh lima orang berbeda secara bergantian. Selama proses tersebut, para aktivis dipaksa berlutut dengan dahi menyentuh lantai kapal dalam suasana yang penuh intimidasi.
Kekerasan fisik pun menjadi kenyataan pahit yang tak terelakkan bagi para aktivis di area penahanan kapal kargo tersebut. Silas membeberkan bahwa banyak rekan seperjuangannya menderita luka serius, mulai dari patah tulang rusuk hingga dislokasi bahu akibat tindakan brutal seperti tangan yang dipelintir dan diangkat paksa.
Tak hanya itu, hantaman keras di bagian wajah menyebabkan beberapa aktivis mengalami patah tulang wajah serta gegar otak, bahkan situasi kian mencekam dengan adanya laporan mengenai setidaknya satu orang yang terkena tembakan proyektil saat proses intersepsi berlangsung.
Di tengah perjuangan ini, Silas mengingatkan dunia bahwa masih ada dua rekan mereka, Saif dan Thiago, yang hingga saat ini masih dipenjara oleh otoritas Israel. Ia mendesak adanya perhatian internasional dan tekanan publik agar kedua aktivis tersebut segera dibebaskan dan dikembalikan ke tim Flotilla.
"Apa yang kami alami ini sangat kecil dan tidak signifikan jika dibandingkan dengan penderitaan warga Palestina di Gaza selama bertahun-tahun, bahkan sebelum genosida dua tahun terakhir ini terjadi. Sangat penting bagi dunia untuk tetap fokus pada rakyat Gaza. Kami tidak melupakan kalian," ucap Silas.