10 September 2026 21:25
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pusat Vulkanologi menegaskan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung berapi secara bersamaan di Indonesia merupakan kebetulan statistik dan bagian dari dinamika wilayah Ring of Fire. Pihak otoritas sekaligus membantah isu viral di media sosial yang mengklaim bahwa peristiwa geologi tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi.
Peningkatan aktivitas vulkanik tercatat terjadi di sejumlah gunung api aktif, di antaranya Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Sinabung di Sumatra Utara, dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur. Kendati letusan terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, para ahli menekankan bahwa fenomena ini tidak menandakan adanya satu sistem vulkanik raksasa yang terhubung satu sama lain.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Danny Hilman Natawijaya, menjelaskan bahwa setiap gunung berapi di Indonesia memiliki sistem magma serta siklus letusan tersendiri yang berdiri mandiri. Ia memastikan tidak ada teknologi manusia yang mampu merekayasa sistem gunung berapi maupun gempa bumi.
"Teknologi kita tidak bisa memanipulasi atau memodifikasi sistem gunung api ataupun gempa, amat sangat sulit. Jadi jawabannya tidak mungkin, tidak mungkin direkayasa," tegas Danny dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 10 September 2026.
Danny menambahkan bahwa terjadinya erupsi bersamaan merupakan kebetulan secara statistik, mengingat Indonesia memiliki sekitar 20 persen dari total gunung berapi di seluruh kawasan Ring of Fire.
"Jawaban yang paling logis yaitu kebetulan statistik saja. Secara kebetulan gunung-gunung api yang dengan siklusnya sendiri-sendiri. Tapi karena di Indonesia kan sangat banyak gunung apinya, jadi tahun ini kebetulan saja ada beberapa gunung api yang kebetulan sedang aktif bersamaan. Ini hanya satu kebetulan timing-nya saja. Kesamaan kejadian tidak berarti ada relasi proses," jelas Danny.
Terkait kondisi Gunung Anak Krakatau, saat ini statusnya berada pada Level 3 (Siaga) dengan skala kekuatan Volcanic Explosivity Index (VEI) 2 hingga 3. Kondisi ini berbeda dengan erupsi pada tahun 2018 yang mencapai skala VEI 4 (Awas) dan memicu tsunami akibat sebagian badan gunung yang kolaps.
Mengingat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif serta dikelilingi sesar aktif, BRIN mengimbau pemerintah dan masyarakat untuk berfokus pada penguatan mitigasi bencana, penyiapan jalur evakuasi, penyesuaian tata ruang daerah rawan, serta pengembangan riset dan sumber daya manusia ahli gunung api secara berkelanjutan.