Generasi Z Enggan Mengejar Jabatan Manajerial, Ini Alasannya

4 February 2026 15:28

Jakarta: Kenaikan jabatan yang dulu dianggap sebagai puncak kesuksesan karier kini tidak lagi menjadi ambisi utama bagi banyak anak muda. Generasi Z justru menunjukkan kecenderungan untuk menghindari posisi manajerial, sebuah pergeseran yang menandai perubahan cara pandang terhadap dunia kerja.

Berdasarkan survei Glassdoor Community, sebanyak 68 persen pekerja Gen Z mengaku tidak tertarik mengejar jabatan manajemen, kecuali jika disertai kompensasi gaji yang jauh lebih tinggi atau posisi strategis tertentu. Meski Generasi Z diproyeksikan akan mengisi sekitar satu dari sepuluh posisi manajerial dalam beberapa tahun ke depan, kepemimpinan formal bukanlah tujuan utama mereka.

Alih-alih fokus pada jenjang karier tradisional, ambisi Gen Z banyak diarahkan pada kehidupan di luar pola kerja konvensional pukul 9 hingga 5. Fleksibilitas waktu, kesehatan mental, dan keseimbangan hidup menjadi pertimbangan yang lebih dominan.
 

 

Tujuan Karier yang Bergeser

Pandangan Generasi Z terhadap pekerjaan juga semakin berbeda dibanding generasi sebelumnya. Kelompok yang kerap disebut sebagai “Generasi AI” ini justru banyak beralih ke sektor seperti layanan kesehatan, pekerjaan terampil, pemerintahan, hingga pendidikan. Kekhawatiran terhadap disrupsi teknologi, terutama kecerdasan buatan, turut memengaruhi arah pilihan karier mereka.

Bagi Gen Z, ambisi tidak diartikan sebagai naik jabatan dalam struktur hierarki, melainkan menemukan pekerjaan yang berkelanjutan, stabil secara finansial, dan tidak mengorbankan kesehatan mental.

“Mereka tidak menolak ambisi, tetapi mengarahkannya ke jalur karier yang lebih berkelanjutan dengan prioritas pada keamanan finansial dan kepuasan pribadi,” ujar Daniel Zhao, Kepala Ekonom Glassdoor, dikutip dari laman resmi Glassdoor.

Ambisi dalam Bentuk yang Berbeda

Penurunan minat terhadap jabatan manajerial tidak berarti Generasi Z kurang ambisius. Justru sebaliknya, banyak dari mereka menyalurkan ambisi melalui pekerjaan sampingan, usaha mandiri, aktivitas kreatif, hingga keterlibatan dalam isu-isu sosial.

Bagi Gen Z, pekerjaan utama kerap dipandang sebagai alat untuk menopang passion dan kehidupan personal, bukan satu-satunya sumber identitas diri. Kepuasan hidup tidak selalu diukur dari jabatan, melainkan dari kebebasan dan makna yang diperoleh dari berbagai aktivitas di luar kantor.
 

Ketika Gen Z berada di posisi kepemimpinan, pendekatan mereka pun cenderung berbeda. Para pemimpin muda ini mulai menulis ulang standar manajemen, dengan menempatkan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi sebagai kebutuhan mendasar, bukan sekadar fasilitas tambahan. Fleksibilitas jam kerja, pengelolaan beban kerja musiman, serta fokus pada kesejahteraan karyawan dipandang sebagai kunci keberlanjutan jangka panjang perusahaan.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Zein Zahiratul Fauziyyah)