Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate 4,75%

26 February 2026 15:40

Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen. Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global. 

Rapat Dewan Gubernur Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga landing facility sebesar 5,50 persen. 

Keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan saat ini sebagai upaya penguatan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, guna mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. 

“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 dan 19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga landing facility sebesar 5,50 persen. Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dikutip dari tayangan Zona Bisnis, Metro TV, Kamis, 26 Februari 2026.
 

Baca juga: OJK Sebut 'Kredit Nganggur' Jadi Fenomena Wajar di Siklus Perbankan


Bank Indonesia tercatat telah mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75 persen seja September 2025. Adapun BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025, dengan total penurunan mencapai 125 basis point.

Meski demikian, Bank Indonesia mencatat suku bunga kredit perbankan baru mengalami penurunan sebesar 40 basis point dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan, ke depan untuk menurunkan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan, antara lain dengan penguatan efektivitas transmisi dari perlonggar kebijakan moneter. 

Harapannya, kebijakan tersebut dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi, guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Nopita Dewi)