Mengenal Perahu Pinisi, Warisan Maritim Indonesia yang Mendunia

23 September 2026 12:26

Jakarta: Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan tradisi maritim yang telah berkembang sejak ratusan tahun lalu. Salah satu bukti kekayaan bahari Nusantara adalah Perahu Pinisi, perahu layar kayu ikonik yang hingga kini masih digunakan dan menjadi bagian penting dari budaya maritim Indonesia.

Melansir dari laman resmi Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), kisah perahu legendaris ini berakar di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Menurut kisah turun-temurun masyarakat setempat, keberadaan Pinisi berawal dari pelayaran Pangeran Sawerigading.

Ketika kapal yang ditumpanginya dihantam badai hingga pecah, bagian-bagian kayunya terdampar di pantai dan dirakit kembali oleh warga lokal dari suku Konjo. Momen inilah yang dipercaya menjadi salah satu titik awal lahirnya tradisi pembuatan Pinisi.

 

Keistimewaan Pembuatan Perahu Pinisi

Keunggulan Pinisi terletak pada proses pembuatannya yang unik dan diwariskan secara turun-temurun. Berikut beberapa keistimewaan dalam pembuatan Perahu Pinisi:

  • Teknik Konstruksi Tanpa Gambar Teknik

Pembuat kapal yang bergelar Panrita Lopi merancang Pinisi secara intuitif berdasarkan pengalaman dan keahlian yang diwariskan secara turun-temurun, tanpa menggunakan panduan sketsa atau gambar teknik modern.

  • Perakitan Lambung Tanpa Paku Besi

Berbeda dari metode pembuatan kapal Barat yang membangun kerangka dasar terlebih dahulu, Pinisi disusun mulai dari papan-papan lambung luar. Pengikat antarkayu tidak menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu yang membuat sambungan semakin kuat.

  • Filosofi Struktur dan Layar

Perahu Pinisi dilengkapi dua tiang utama dan tujuh helai layar. Angka tujuh memiliki makna filosofis yang melambangkan jumlah ayat dalam Surah Al-Fatihah. Angka tersebut juga dimaknai sebagai doa agar kapal mampu mengarungi tujuh samudra dunia dengan selamat.

  • Ritual Sakral dan Anyorong Lopi

Setiap tahapan pembuatan Pinisi diiringi ritual khusus, mulai dari penentuan hari baik untuk penebangan kayu di hutan, pemotongan kayu lunas, hingga puncak tradisi Anyorong Lopi. Tradisi ini dilakukan dengan mengerahkan warga untuk bergotong royong mendorong badan kapal dari pesisir menuju laut.

Kini, fungsi Pinisi telah bertransformasi dari kapal dagang tradisional menjadi armada wisata bahari (liveaboard) kelas dunia. Eksistensi Pinisi tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage) pada 2017. Pengakuan tersebut semakin mempertegas posisi Pinisi sebagai salah satu warisan budaya maritim Indonesia yang memiliki nilai penting.

 

Nah, keberadaan Pinisi menunjukkan bahwa tradisi maritim Indonesia tidak hanya memiliki sejarah panjang, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, tradisi pembuatan Pinisi masih menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan dan Indonesia.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Sofwa Najla Tsabita Sunanto)

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X