Jakarta: Tradisi pemberian angpao saat Tahun Baru Imlek sering kali menyisakan dilema bagi orang tua: bagaimana mengelola uang dalam jumlah besar yang diterima anak?
Fenomena klasik di mana orang tua mengambil alih uang tersebut dengan dalih "disimpan", tapi sering kali terpakai untuk kebutuhan rumah tangga, kini menjadi sorotan para ahli. Praktik yang dikenal sebagai Parenting by Lying ini dinilai memiliki dampak psikologis jangka panjang yang serius.
Sebuah studi mengungkapkan bahwa kebohongan orang tua demi kepraktisan pengasuhan dapat berdampak negatif saat anak dewasa. Anak yang sering dibohongi cenderung tumbuh dengan masalah kepercayaan (
trust issues) dan kesulitan regulasi emosi.
Dalam konteks Imlek, ketika orang tua berjanji "menyimpan" namun tidak transparan mengenai keberadaan uang tersebut, anak belajar bahwa janji orang tua tidak dapat dipegang. Hal ini berpotensi mengikis otoritas orang tua di mata anak.
Solusi Ahli: Aturan 50-50
Menanggapi fenomena pengelolaan uang pada anak, para ahli menyarankan pendekatan yang lebih transparan dan edukatif. Orang tua diimbau untuk tidak serta-merta menyita seluruh uang yang diterima anak, melainkan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk mengelola sebagian dananya sendiri.
Salah satu metode yang bisa diterapkan adalah memberikan batasan yang jelas, misalnya mengizinkan anak menggunakan maksimal 50 persen dari total uang yang mereka miliki untuk keperluan atau keinginan pribadi.
Sisa uang tersebut kemudian dapat diarahkan untuk ditabung atau diinvestasikan demi mewujudkan keinginan jangka panjang, seperti membeli barang impian yang harganya lebih mahal. Langkah ini dinilai efektif untuk menanamkan konsep prioritas dan melatih mental menunda kesenangan (
delayed gratification) sejak dini.
Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.