Berburu Perlengkapan Sembahyang Waisak di Glodok, Lilin Teratai hingga Dupa Jadi Incaran

28 May 2026 19:48

Menjelang perayaan Hari Raya Waisak yang jatuh pada Minggu, 31 Mei 2026, umat Buddha mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan ibadah dan sarana puja. Salah satu sentra perlengkapan Buddhis yang ramai dikunjungi berada di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Toko-toko di kawasan ini menyediakan beragam kebutuhan ritual, mulai dari lilin teratai, aneka jenis dupa atau hio, hingga rupang (patung) dewa-dewi.

Theren, salah satu pemilik toko perlengkapan Buddhis di Glodok, menyebutkan bahwa menjelang Waisak, penjualan sarana puja mengalami peningkatan. Masyarakat umumnya memburu perlengkapan esensial seperti lilin berbentuk bunga teratai dan hio untuk kebutuhan sembahyang harian maupun puncak perayaan Waisak.


Rupang Siddhartha Gautama dan Dewa Kemakmuran Jadi Favorit

Selain kebutuhan habis pakai, rupang atau patung juga menjadi incaran utama umat Buddha. Untuk momen Waisak, rupang Siddhartha Gautama menempati posisi teratas barang yang paling banyak dicari. Toko-toko menyediakan berbagai bentuk dan pose rupang sang Buddha, mulai dari pose meditasi berlapis warna emas hingga rupang Buddha berbaring (sleeping Buddha).

Selain rupang sang Buddha, umat juga kerap mencari rupang Cai Shen Ye atau Dewa Kemakmuran. Rupang ini umumnya dibeli oleh umat yang ingin memanjatkan doa khusus untuk kelancaran usaha, kesuksesan finansial, dan kemakmuran dalam hidup.

Ragam Dupa Impor Berkualitas Super

Pemilihan hio atau dupa juga menjadi aspek penting dalam persiapan Waisak. Theren menjelaskan bahwa hio yang dijual memiliki banyak varian, baik dari segi aroma, lama pembakaran, hingga negara asal. Untuk aroma, varian melati, mawar, dan kayu cendana (sandalwood) menjadi pilihan favorit. Ketahanan bakarnya pun beragam dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan ibadah umat, mulai dari 3 jam, 4 jam, 12 jam, hingga 15 jam.

Toko-toko di Glodok juga menawarkan dupa impor dengan karakteristik yang berbeda-beda. Dupa asal Thailand umumnya memiliki wangi kayu cendana yang lebih kuat. Sementara itu, untuk kualitas premium, hio impor asal Taiwan menjadi primadona. Hal ini tidak lepas dari tingginya standar produksi di Taiwan guna memenuhi kebutuhan mayoritas penduduknya yang merupakan penganut ajaran Buddha.

(Sofia Zakiah)