Puncak ibadah haji, yakni wukuf di Padang Arafah, menjadi momen spiritual yang sangat sakral. Di tempat suci ini, seluruh jemaah berhenti dari urusan duniawi untuk merenung dan bermunajat. Di antara lautan jutaan jemaah, terdapat sebuah kisah perjuangan yang sangat menginspirasi datang dari Ahmad Jarir, seorang penjual kopi keliling asal Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Jurnalis Metro TV, Wily Dharmawan, berkesempatan mewawancarai Pak Jarir tepat setelah ia melaksanakan wukuf di Arafah. Pak Jarir tergabung dalam jemaah Haji Khusus (Plus) Patuna Travel paket hijau, sebuah pencapaian luar biasa yang ia raih dari hasil keringatnya berjualan kopi seduh.
Dari Lapak Kecil Menuju Baitullah
Sehari-harinya, Pak Jarir dan sang istri mengadu nasib di Pasar Tayu. Mereka berjualan sejak pukul 01.30 dini hari hingga 09.00 pagi. Sang istri bertugas meracik minuman di lapak berukuran 1x1,5 meter, sementara Pak Jarir berkeliling menjajakan kopi ke setiap sudut pasar.
"Satu cangkir kopi saya jual mulai Rp3 ribu. Waktu itu saya berpikir, sehari untung sekian, kalau ditabung sekian bulan bisa dapat segini. Kalau pas pasar lagi ramai, keuntungan bersih bisa dapat Rp300-400 ribu," cerita Pak Jarir dikutip dari Live Event Wukuf Arafah Metro TV, Selasa, 26 Mei 2026.
Lintingan Uang di Kaleng Biskuit
Berbekal niat baja, sejak tahun 2010 Pak Jarir dan istrinya mulai menabung sedikit demi sedikit. Uniknya, karena saat itu ia belum terbiasa dengan layanan perbankan, ia menyimpan uang hasil jualannya secara manual di rumah.
"Karena belum pengalaman di bank, uang recehan seribuan atau ratusan rupiah itu saya kumpulkan. Kalau sudah pas satu juta, saya linting dan saya masukkan ke dalam kaleng biskuit. Begitu terus seterusnya," cerita Pak Jarir.
Selama 10 tahun menabung, godaan tentu berdatangan. Pak Jarir bercerita pernah ditawari mobil milik adiknya yang hendak dijual. Sang istri sempat goyah, namun Pak Jarir tetap bersikukuh pada niat awalnya.
"Mobil itu kan besi, di toko banyak yang jual. Tapi kalau ke tanah suci belum tentu satu atau dua tahun dipanggil Allah," tegasnya.
Tunai Tanpa Utang
Konsistensi dan keteguhan iman Pak Jarir membuahkan hasil manis. Pada 2020, ia akhirnya mendaftarkan diri berhaji. Enam tahun berselang, pada musim haji 2026 ini, ia dan istri dipanggil ke Baitullah melalui jalur Haji Plus dengan total biaya mencapai Rp900 juta.
"Alhamdulillah tidak utang, tidak pinjam bank, tidak pinjam orang. Mutlak 100 persen dari hasil keringat kami berdua jualan kopi," ucap Pak Jarir penuh syukur.
Memilih agen travel Patuna juga bukan tanpa alasan. Ia belajar dari pengalaman menyedihkan kenalannya di Kecamatan Tayu yang pernah tertipu biro haji bodong. Kini, di Padang Arafah, tangis haru tak bisa disembunyikan oleh Pak Jarir.
"Sangat terharu sekali. Menangis bener-bener saya. Oh begini rasanya wukuf, baru terasa bener saya sedang naik haji," ucapnya.