Harga Plastik Melambung hingga 50% Imbas Konflik Timur Tengah

3 April 2026 15:12

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak nyata pada industri dalam negeri. Kenaikan harga bahan baku kemasan plastik kini menjadi sorotan utama setelah harga di pasaran dilaporkan melonjak drastis hingga mencapai 50 persen.

Penyebab utama dari krisis plastik di dalam negeri adalah ketergantungan industri terhadap impor bahan baku nafta dari kawasan Timur Tengah. Tertutupnya akses di Selat Hormuz menjadi hambatan krusial bagi aksesibilitas distribusi bahan baku sehingga mempengaruhi industri plastik nasional.

Solihin, salah satu penjual plastik di kawasan Jakarta Barat, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi secara fluktuatif dan bertubi-tubi. Ia berharap pemerintah segera memulihkan stabilitas harga bahan baku agar sektor perdagangan dapat kembali normal.

"Kami sebagai pedagang juga jadi bingung untuk berjualan, untuk menentukan harga karena naiknya juga fluktuatif, naik terus bertubi-tubi. Itu bisa sampai 40 sampai 50% kalau total semuanya," ujar Solihin. 
 

Baca juga: Pemerintah Diminta Siapkan Mitigasi Jika Konflik Timur Tengah Berlangsung Lama

Dampak kenaikan ini juga merembet ke pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada kemasan plastik. Nur, seorang penjual es teh, mengaku mengalami kenaikan biaya operasional akibat harga cup plastik yang naik sekitar Rp2.000 per pak.

Meskipun biaya modal meningkat, banyak pelaku usaha kecil memilih untuk tidak menaikkan harga jual kepada konsumen karena khawatir kehilangan pelanggan.

"Harapannya sih saya sebenarnya inginnya jangan sampai melonjak lagi lah naiknya. Yang penting sudah standar saja begitu," tutur Nur.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dilaporkan tengah berupaya mencari solusi dan sumber alternatif untuk memenuhi ketersediaan bahan baku nafta guna menstabilkan kembali harga plastik di dalam negeri.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)