Zein Zahiratul Fauziyyah • 6 April 2026 11:37
Jakarta: Indonesia kaya akan beragam flora dan fauna, yang hingga kini menjadi kebanggaan sekaligus daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Salah satu pesona alamnya adalah jaringan sungai yang indah, mengalir menembus berbagai wilayah nusantara dan menyimpan keunikan serta nilai ekologis yang tinggi.
Sungai terpanjang di Indonesia menempat di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Mengalir dari Pegunungan Muller sampai Selat Karimata, Sungai Kapuas mencapai panjang 1,143 kilometer, dengan lebar yang beragam tergantung hulu ke hilirnya, rata-rata 70-150 meter. Sungai Kapuas merupakan sungai dengan daya tarik beragam, tidak hanya dalam panjangnya.
Melansir laman
Traveloka, Sungai Kapuas sering kali disebut juga Sungai Kapuas Buhang, serta Sungai Batang Lawai, merujuk ‘Lawai’ dari nama daerah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Melawi. Mengalir dari Kabupaten Melawi sampai muara merupakan anak sungai yang dijuluki Sungai Batang Lawai.
Aliran Sungai Kapuas juga membelah Kota Pontianak, memisahkan Kecamatan Pontianak Utara dan Pontianak Timur di sisi yang berbeda. Kondisi ini memengaruhi aktivitas penduduk setempat, yang sering memanfaatkan jembatan penghubung untuk berpindah antarwilayah.
Selain fungsi fisiknya, Sungai Kapuas memiliki
nilai budaya yang unik, karena terkait erat dengan legenda lokal yang hingga kini masih hidup sebagai bagian dari cerita rakyat dan kepercayaan masyarakat setempat.
Legenda Rakyat Dibalik Sungai Kapuas
Legenda yang melekat pada Sungai Kapuas menceritakan tentang Kerajaan Kahayan Hilir. Pada masanya, kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang adil dan bijaksana, sehingga wilayahnya dikenal aman, makmur, dan sejahtera. Namun, kejayaan Kerajaan Kahayan Hilir mulai terguncang ketika muncul persoalan terkait penerusan mahkota sang raja.
Sang raja memiliki dua putra kembar, Naga dan Buaya, yang bersikap sangat kontras, sehingga menimbulkan kebingungan bagi sang raja mengenai siapa yang layak menjadi penerus kerajaan. Di tengah ketidakpastian ini, sang raja memilih untuk menyepi sementara dan meninggalkan istana, menyerahkan pengurusan kerajaan secara temporer kepada kedua putranya.
Namun selama ketiadaannya, Naga menyalahgunakan kesempatan kekuasaan, yang memicu teguran dari Buaya karena tindakan tersebut dianggap tidak etis. Perselisihan antara keduanya pun memuncak hingga menimbulkan pertengkaran hebat. Mendengar kabar ini, sang raja sangat marah dan mengutuk kedua putranya menjadi makhluk yang kini dikenal sebagai Buaya dan Naga.
Terkutuk, keduanya meninggalkan Kerajaan Kahayan Hilir dan menetap di Sungai Kapuas. Legenda ini berakhir tragis, namun hingga kini dipercaya oleh masyarakat lokal bahwa Buaya dan Naga tetap menjadi penunggu Sungai Kapuas.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Odetta Aisha Amrullah)