Motif utama di balik aksi keji Taufik Hidayat (30) yang tega menyekap dan menyiksa kekasihnya, YTR (29), di Cileunyi, Kabupaten Bandung, hingga kini masih terus didalami oleh pihak kepolisian. Untuk menguak tabir di balik kekejaman tersebut, penyidik kini menjadwalkan pemeriksaan mendalam dengan melibatkan ahli kejiwaan.
Dalam wawancara di Metro Hari Ini, Metro TV, psikolog forensik Reni Kusumowardhani memaparkan bahwa tindakan kekerasan berat dan kronis terhadap pasangan tidak dapat dilihat dari satu faktor tunggal. Dari kacamata psikologi forensik, terdapat tiga dimensi pendorong yang saling berinteraksi hingga membuat pelaku tega bertindak sadis.
Menurut Reni, ada sebuah mekanisme kognitif yang terlepas dari ikatan moral sehingga terjadi situasi moral disengagement yang memungkinkan individu melakukan rasionalisasi, tidak bertanggung jawab, dan mendehumanisasi korban. Hal inilah yang membuat pelaku dapat melakukan tindakan agresif tanpa mengalami distress moral yang signifikan, yang sekaligus menjelaskan fenomena kata tega secara psikologis.
"Jadi pelaku dapat melakukan tindakan agresif tanpa mengalami distress moral yang signifikan," kata Reni.
Motivasi Penguasaan dan Kontrol Penuh atas Pasangan
Ditambah lagi, adanya karakteristik ketidakmampuan melakukan regulasi emosi saat situasi tidak sesuai dengan harapan mengakibatkan perilaku dehumanisasi, yaitu menghalalkan berbagai cara dengan menganggap pasangan hanya sebagai objek atau barang yang bisa diperlakukan semaunya termasuk di dalam melampiaskan emosi.
Dimensi kedua yang melatarbelakangi kekejaman ini adalah dimensi motivasi. Kebanyakan yang menjadi motivasi kekerasan, khususnya yang bersifat berat dan kronis di dalam relasi intim, biasanya bertujuan untuk mendapatkan kuasa atau kendali kontrol atas diri korban.
"Biasanya korban yang dipilih itu karena adanya aksesibilitas, dekat dengan korban, dan adanya ketergantungan struktural yang tinggi. Jadi kemungkinan, ya, waktu itu korban mudah dikendalikan karena dimungkinkan di awal hubungan itu memiliki kepercayaan kepada pelaku," tambah Reni.
Faktor Gangguan Kepribadian dan Trauma Masa Kecil
Sementara itu, dimensi ketiga yang tidak kalah krusial adalah dimensi disposisional dan kontekstual yang berkaitan dengan kepribadian pelaku. Reni melihat adanya kemungkinan kepemilikan trait antisosial maupun trait narsistik di dalam bentuk gangguan kepribadian pada diri pelaku. Karakteristik dari trait tersebut ditandai dengan adanya defisit yang nyata di dalam regulasi emosi dan empati.
Faktor ini sering kali diperparah oleh adanya riwayat atau paparan kekerasan pada masa kanak-kanak, yang kemudian membangun konteks kekerasan di alam bawah sadar sebagai bentuk penyelesaian masalah yang dipilih sekaligus menjadi semacam legitimasi terhadap kekerasan pada diri pelaku.
"Maka 'tega' melakukan kekerasan berat merupakan produk dari kombinasi motif kontrol, deaktifasi empati melalui disengagement moral tadi, dan faktor risiko dari disposisi psikologis atau trait atau gangguan kepribadian yang kemungkinan dimiliki oleh pelaku, ya. Jadi bukan sekadar kehilangan kontrol semata," tegas Reni.