Jutaan jemaah haji dari seluruh penjuru dunia, termasuk 221.000 orang asal Indonesia, berkumpul di Padang Arafah pada hari ini, 9 Zulhijah, untuk melaksanakan ritual paling utama dalam ibadah haji, yakni Wukuf.
Wukuf di Arafah bukan sekadar prosesi biasa, melainkan rukun haji yang paling agung dari seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci. Sebagaimana merujuk pada sabda Rasulullah SAW, 'Al-Hajj Arafah' (Haji adalah Arafah), Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Anwar Abbas menegaskan bahwa wukuf merupakan syarat mutlak diterimanya ibadah haji.
"Seseorang tidak bisa dikatakan telah melaksanakan ibadah haji jika tidak hadir atau wukuf di Arafah," ujarnya.
Ketentuan ini sangat ketat, bahkan bagi jemaah yang lanjut usia (lansia) atau sakit. Mereka tetap harus dihadirkan di Arafah, meskipun harus menggunakan ambulans (Safari Wukuf), karena tanpa kehadiran di sana pada waktu yang ditentukan, ibadah haji mereka dianggap tidak sah dan harus diulang di tahun berikutnya.
Makna Ibadah Wukuf
Buya Anwar, menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga nilai filosofis utama di balik pelaksanaan wukuf di Arafah:
- Kepatuhan Mutlak kepada Allah: Wukuf menyadarkan manusia akan pentingnya tunduk dan patuh pada panggilan Allah SWT. Jemaah datang dari berbagai negara untuk menunjukkan posisi mereka sebagai hamba yang taat.
- Kesamaan dan Kesetaraan: Penggunaan pakaian ihram yang seragam melambangkan bahwa di mata Allah, semua manusia adalah sama. Tidak ada perbedaan antara presiden, menteri, maupun rakyat biasa; yang membedakan hanyalah ketakwaan dan warna kulit sebagai takdir.
- Persatuan dan Kesatuan: Arafah menjadi simbol persatuan umat Islam sedunia di bawah perintah Tuhan yang Esa.
Tata Cara dan Amalan Selama Wukuf
Waktu wukuf dimulai sejak tergelincirnya matahari (waktu Zuhur) pada 9 Zulhijah hingga terbitnya fajar pada hari berikutnya. Rangkaian ibadah yang dilakukan meliputi:
- Mendengarkan khutbah Arafah yang dilakukan saat masuk waktu Zuhur.
- Dilanjutkan salat jamak-qasar untuk salat Zuhur dan Asar secara bersamaan dan diringkas di waktu Zuhur.
- Berdiam diri (wukuf) sambil memperbanyak membaca lafaz-lafaz karimah seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir, serta talbiyah.
- Hari Arafah juga dikenal sebagai waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Jemaah didorong untuk memanjatkan harapan terbaik bagi diri sendiri, keluarga, hingga kemaslahatan bangsa dan dunia.
Larangan Selama Wukuf
Selama melaksanakan wukuf, Buya Anwar mengingatkan jemaah mematuhi larangan selama wukuf, di antaranya:
- Dilarang menggunakan wangi-wangian.
- Dilarang mengenakan pakaian berjahit, penutup kepala, serta alas kaki yang menutup tumit bagi Jemaah laki-laki. Sementara bagi jemaah perempuan, dilarang menggunakan sarung tangan dan penutup wajah atau cadar.
- Dilarang mencaci, bertengkar hingga mengucapkan kata-kata kotor.
- Dilarang melakukan hubungan suami istri.
- Dilarang merusak atau mengganggu tanaman dan hewan di area Arafah.
Jika melanggar, maka jemaah haji akan dikenakan sanksi berupa denda (
dam) hingga berpotensi membatalkan haji sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
Pesan bagi Umat Islam yang Tidak Berhaji
Bagi umat Islam di Tanah Air, keberkahan hari Arafah tetap dapat dirasakan dengan memperbanyak amalan di Hari Arafah. Di antaranya berpuasa, memperbanyak doa, membaca zikir dan kalimat tauhid serta bersedekah.
Buya Anwar juga berpesan agar umat Islam yang belum berhaji terus memperkuat niat dan tekad, karena Allah akan memberikan kesempatan bagi mereka yang bersungguh-sungguh ingin menyempurnakan rukun Islam kelima ini.
"Sudah banyak sekali saya lihat orang yang bertekad kuat untuk berhaji, dan akhirnya keinginannya tercapai," tutupnya.