Jakarta: Operasi militer berskala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu akhir pekan lalu dinilai memiliki agenda ganda. Pakar Hukum Internasional, Hikmahanto Juwana, menganalisis bahwa serangan mematikan tersebut bukan sekadar upaya melumpuhkan program nuklir, melainkan strategi terencana untuk menggulingkan rezim pemerintahan Iran saat ini.
Dampak gempuran udara yang menghantam Teheran tak pelak memicu kepanikan luar biasa di kalangan warga sipil. Gelombang eksodus tak terhindarkan ketika penduduk berbondong-bondong meninggalkan ibu kota untuk mencari tempat perlindungan yang lebih aman dari ancaman rudal militer koalisi.
Target Utama Pergantian Rezim
Menurut Hikmahanto, serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di tengah perundingan nuklir ini dirancang untuk meruntuhkan fondasi kekuasaan Teheran. Ia memandang bahwa Amerika Serikat memiliki kepentingan yang jauh lebih luas untuk memastikan pelemahan kekuatan secara fundamental.
"Sebenarnya ada dua hal yang mereka inginkan. Di samping pemusnahan terhadap senjata nuklir, yang diharapkan terjadi adalah pergantian rezim atau pemerintahan. Karena dengan pergantian pemerintahan, baru bisa dijamin bahwa Iran akan mengakhiri pengembangan uranium, pembuatan senjata nuklir, dan bantuan proksi-proksi mereka seperti Hamas untuk melakukan serangan ke Israel," ungkap Hikmahanto dalam program
Breaking News Metro TV, Minggu, 1 Maret 2026.
Sosok Kuat Reza Pahlavi
Skenario pergantian rezim ini diyakini akan menjadi titik balik pemulihan hubungan diplomatik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini dinilai akan mengembalikan kemesraan hubungan antarnegara yang pernah terjalin erat sebelum meletusnya Revolusi Islam pada tahun 1979 silam.
Nama putra mendiang Shah Iran, Reza Pahlavi, kini menguat dan digadang-gadang sebagai kandidat utama yang dipersiapkan untuk mengisi kekosongan kursi kepemimpinan pascakematian Khamenei.
"Adanya pergantian rezim ini mungkin hubungan antara Iran dengan AS dan Iran dengan Israel akan seperti sebelum tahun 79, di mana pada masa Shah Iran hubungan mereka sangat mesra. Memang diharapkan penggantinya salah satunya adalah putra dari Shah Iran di AS yaitu Reza Pahlavi," tutur Hikmahanto.
Sikap politik yang ditunjukkan oleh Reza Pahlavi menjadikannya sosok ideal di mata Amerika Serikat. Melalui kepemimpinannya, perselisihan panjang dan ketegangan yang selama ini mendidih di kawasan Timur Tengah diharapkan dapat segera diredam.
"Dia sudah bersedia untuk menjadi pemimpin di Iran dan dia sudah menjanjikan hubungan dengan AS dan Israel akan dinormalisasikan, dan pengembangan uranium serta senjata nuklir akan diakhiri," pungkas Hikmahanto.
(Alfiah Ziha Rahmatul Laili)