Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selama upacara menjelang peringatan ke-47 Revolusi Islam 1979, di Teheran, Iran, 1 Februari 2026. (EFE-EPA/KANTOR PEMIMPIN TERTINGGI IRAN)
Profil Ali Khamenei, Pemimpin Agung Iran yang Dibunuh AS-Israel
Riza Aslam Khaeron • 1 March 2026 16:36
Jakarta: Media pemerintah Iran mengonfirmasi pada Minggu dini hari bahwa Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas akibat serangan rudal gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dilancarkan pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Konfirmasi ini muncul beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kematian Khamenei. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi yang telah berkuasa sejak 1989 itu kehilangan kontak sejak gelombang serangan awal menghantam sejumlah target strategis di Iran.
Ayatollah Ali Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Agung sekaligus otoritas spiritual tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh sentral Revolusi Islam 1979.
Dalam sistem politik Republik Islam Iran, Pemimpin Agung memiliki kewenangan yang sangat luas, termasuk menyetujui dan mengangkat pimpinan lembaga peradilan, komandan militer, serta membentuk Dewan Garda (Guardian Council) yang berwenang meninjau undang-undang dan mengawasi jalannya pemilu.
Selain itu, posisi ini memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan media serta strategi keamanan nasional.
Selama 36 tahun kepemimpinannya, Khamenei memposisikan Iran sebagai kekuatan regional yang secara terbuka berseberangan dengan AS dan sekutu-sekutunya. Di bawah kendalinya, pengaruh militer dan politik Teheran meluas ke berbagai kawasan Timur Tengah.
Namun di dalam negeri, pemerintahannya dikenal tangan besi dalam merespons gelombang protes dan ketidakpuasan publik yang berulang kali muncul.
Bagi pemerintah Iran, Khamenei adalah figur fundamental yang mendorong perlawanan dan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman.
"Penerus sah dari 'Ruhullah' (Khomeini) yang, selama lebih dari 37 tahun kepemimpinan yang bijaksana, telah memelopori kepemimpinan sejati di barisan depan Islam. Dengan keberanian teladan dan iman yang teguh, beliau mengantarkan babak baru pemerintahan dalam sejarah Islam, dan hingga saat terakhir dari kehidupannya yang diberkati, beliau memimpin umat Islam melawan kekafiran, tirani, dan keangkuhan," demikian pernyataan resmi pemerintah Iran terkait kematiannya.
Sebaliknya, negara-negara Barat memiliki persepsi yang sangat berbeda. Bagi mereka, Khamenei adalah seorang tiran yang sering dituduh sebagai "penyebar teror" terbesar di Timur Tengah.
"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas. Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi bagi seluruh warga Amerika yang luar biasa, serta orang-orang dari berbagai negara di seluruh dunia yang telah dibunuh atau disiksa oleh Khamenei dan geng banditnya yang haus darah," tulis Presiden AS Donald Trump di platform Truth Social.
Kematian Khamenei pada usia 86 tahun ini dianggap sebagai penutup sebuah era. Berikut adalah profil lengkap dari sang Pemimpin Agung tersebut.
Agama Sebagai Kekuatan Perlawanan Melawan Barat

Khamenei ketika masih muda. (Istimewa)
Seyyed Ali Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, sebuah kota suci di timur laut Iran yang menjadi pusat ziarah Syiah. Ia tumbuh dalam keluarga ulama yang sederhana; ayahnya adalah seorang cendekiawan agama yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Sejak kecil, Khamenei dibesarkan dalam lingkungan religius yang ketat dan mulai membentuk pandangan politik-keagamaannya melalui pendidikan di seminari Islam di Najaf dan Qom—dua pusat utama teologi Syiah dunia.
Pada usia 13 tahun, Khamenei mulai tertarik pada gagasan Islam revolusioner. Ia sangat dipengaruhi oleh pemikiran ulama Navab Safavi yang menyerukan perlawanan terhadap kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi, bahkan membenarkan penggunaan kekerasan politik demi perjuangan Islam.
Ketertarikan ini bukan sekadar akademik; sejak remaja, ia sudah memandang agama sebagai instrumen perubahan politik untuk melawan sistem monarki yang dianggapnya pro-Barat dan represif.
Pertemuan Khamenei dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1958 menjadi titik balik krusial dalam hidupnya.
Ia segera mengadopsi pemikiran Khomeini yang kemudian dikenal sebagai "Khomeinisme"—sebuah ideologi yang memadukan sentimen anti-kolonial, teologi Syiah, dan rekayasa sosial demi menciptakan masyarakat Islam yang dianggap adil.

Khamenei dan Khomenei. (Khamenei.ir)
Berdasarkan ulasan Andrew Thomas, ahli studi Timur Tengah di outlet The Conversation pada 1 Maret 2026, inti dari gagasan ini adalah konsep velayat-e faqih (perwalian ahli hukum Islam).
Konsep ini menegaskan bahwa legitimasi negara harus bersumber dari otoritas ilahi, di mana seorang ulama Syiah yang memenuhi syarat memegang otoritas tertinggi negara dengan kewenangan luas, setara dengan otoritas Nabi dalam konteks pemerintahan.
Sejak 1962, Khamenei aktif selama dua dekade dalam gerakan revolusioner menentang rezim Pahlavi di bawah jaringan Khomeini. Ia terlibat dalam gerakan bawah tanah dan membangun basis massa di kalangan mahasiswa serta ulama.
Pada 1971, ia ditangkap oleh SAVAK (polisi rahasia Shah) dan mengalami penyiksaan selama penahanan. Pengalaman pahit ini justru memperkuat reputasinya sebagai aktivis garis keras dan loyalis setia Khomeini.
Ketika Revolusi Islam 1979 berhasil menggulingkan Shah, Khamenei dengan cepat naik ke puncak kekuasaan. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Revolusi, menjabat sebagai wakil menteri pertahanan, dan berperan penting dalam pembentukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Awalnya dibentuk untuk melindungi revolusi, IRGC kemudian bertransformasi menjadi institusi militer dan politik paling perkasa di Iran, yang kelak menjadi fondasi utama kekuatan Khamenei.
Menjadi Pemimpin Agung Iran

Khamenei tahun 1989. (via rferl.org)
Wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini pada Juni 1989 meninggalkan kekosongan kekuasaan yang kritis. Saat itu, belum ada sosok yang secara eksplisit disiapkan sebagai penerus.
Sebelumnya, Khomeini sempat menunjuk Grand Ayatollah Hossein-Ali Montazeri, namun Montazeri disingkirkan setelah mengkritik pelanggaran HAM oleh rezim dan akhirnya dikenakan tahanan rumah.
Dalam situasi buntu tersebut, nama Ali Khamenei muncul sebagai kandidat kompromi. Secara politik, ia memiliki kredibilitas tinggi: menjabat presiden dua periode (1981–1989) dan sangat dekat dengan IRGC. Namun, terpilihnya Khamenei oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) pada 1989 sempat memicu kontroversi besar.
Kendala utamanya adalah masalah legitimasi keagamaan. Konstitusi saat itu mewajibkan Pemimpin Agung menyandang gelar Grand Ayatollah, sementara Khamenei belum mencapainya.
Banyak ulama senior meragukan standar keilmuannya. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan referendum pada Juli 1989 untuk mengamandemen konstitusi; syarat "Grand Ayatollah" dihapus dan diganti dengan kriteria "memiliki keilmuan Islam yang memadai". Setelah amandemen disahkan, barulah ia secara resmi diangkat menjadi Ayatollah dan Pemimpin Agung.
Sebagai Pemimpin Agung, ia memegang kendali penuh atas kebijakan negara, angkatan bersenjata, dan Dewan Garda. Seiring waktu, Khamenei memperkuat posisinya dengan mengontrol para presiden—mendukung mereka yang sejalan dan menjegal kebijakan yang dianggap menyimpang dari garis ideologinya.
Salah satu intervensinya yang paling brutal terjadi pada pemilu 2009, di mana ia memerintahkan penumpasan berdarah terhadap demonstran yang memprotes kecurangan pemilu.
Poros Perlawanan

Warga Yaman ikut serta dalam aksi protes mingguan di Sanaa untuk mendukung Palestina. (jadaliyya.com?)
Di bawah kepemimpinannya, kebijakan luar negeri Iran didasarkan pada strategi "perlawanan terhadap imperialisme Barat". Keamanan Iran tidak hanya dijaga di dalam perbatasan, tetapi melalui proyeksi pengaruh ke luar negeri untuk menciptakan efek gentar terhadap AS dan Israel.
Melansir Al-Jazeera, strategi ini dikenal sebagai "pertahanan ke depan" (forward defence), yang melahirkan istilah "Poros Perlawanan"—sebuah jejaring aliansi yang mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, milisi Houthi di Yaman, serta rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Arsitek utama dari jaringan ini adalah Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds yang sangat setia kepada Khamenei sebelum ia tewas dalam serangan udara AS pada 2020.
| Baca Juga: Media Iran Sebut Kepala Staf Militer Iran Tewas dalam Serangan AS-Israel |
Namun, kejayaan poros ini mulai runtuh menyusul eskalasi besar setelah 7 Oktober 2023. Perang di Gaza yang menewaskan puluhan ribu orang melemahkan Hamas secara signifikan.
Israel juga berhasil melumpuhkan kepemimpinan Hizbullah, termasuk menewaskan Hassan Nasrallah. Pukulan telak terakhir terjadi pada Desember 2024 ketika rezim Bashar al-Assad di Suriah tumbang, memutus jalur logistik utama Iran ke Lebanon.
Memanfaatkan momentum pelemahan Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melancarkan serangan besar pada 13 Juni 2025. Serangan itu menghantam fasilitas nuklir dan menewaskan banyak ilmuwan serta komandan senior Iran.
Meski Iran membalas dengan rudal ke Tel Aviv, perang 12 hari tersebut berakhir dengan keterlibatan langsung AS yang menghancurkan fasilitas nuklir utama Iran menggunakan bom penghancur bunker.
Protes dan Pembunuhan Massal Iran 2026
.jpg)
Jenazah korban pasca protes Iran. (via NBC)
Khamenei, pada masanya, terkadang bersedia bekerja sama dengan Barat—terutama saat bernegosiasi dengan AS mengenai program pengayaan nuklir Iran. Namun, selama masa pemerintahan Trump yang pertama, ia kembali ke sikap anti-Barat yang keras sebagai respons atas penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir 2015 dan pembunuhan Qassem Soleimani.
Ketika Trump kembali menjabat pada 2025, posisi Iran semakin terjepit. Kekalahan Iran dalam perang singkat melawan Israel pada 2025 menghancurkan sisa-sisa legitimasi rezim di mata rakyatnya.
Penduduk Iran yang semakin menderita mulai menunjukkan kebencian terbuka terhadap sistem politik mereka. Dalam protes tahun 2025–2026, massa mulai secara terang-terangan meneriakkan seruan kematian bagi Khamenei.
Gelombang protes nasional yang meletus pada 28 Desember 2025 dipicu oleh anjloknya nilai tukar rial, inflasi yang tak terkendali, serta krisis energi. Demonstrasi yang awalnya bersifat ekonomi dengan cepat berubah menjadi gerakan politik yang menuntut berakhirnya Republik Islam.
Respon negara sangatlah brutal. Pada 3 Januari 2026, Khamenei melabeli demonstran sebagai "perusuh", yang menjadi lampu hijau bagi aparat untuk melepaskan tembakan. Akses internet diputus total sejak 8 Januari untuk menutupi pembantaian yang sedang berlangsung.
Pasukan keamanan menggunakan peluru tajam untuk menembaki massa dari atap bangunan, menyasar kepala dan dada.
Puncak kekerasan pada 8–9 Januari 2026 mengakibatkan ribuan orang tewas. Rumah sakit dan kamar jenazah meluap. Mengenai jumlah korban, terdapat perbedaan data yang mencolok; pemerintah Iran secara resmi mengakui 3.117 korban jiwa, namun media internasional seperti Time dan The Guardian melaporkan angka mencapai 30.000 orang.
Donald Trump bahkan menyebut angka 32.000 korban tewas dalam pernyataannya pada 20 Februari 2026, menyebut situasi tersebut sebagai "hal yang sangat menyedihkan bagi rakyat Iran".
Negosiasi Nuklir dan Kematian Khamenei

Foto satelit kediaman Khamenei yang hancur pasca serangan AS-Israel. (via Sky News)
Pasca-protes, ketegangan semakin memuncak saat AS memindahkan aset militernya ke Timur Tengah dan mengancam akan menyerang jika Iran tidak menyetujui empat tuntutan utama: penghentian program nuklir, pembatasan misil balistik, penghentian pendanaan proksi, dan penghentian penindasan terhadap rakyat sendiri.
Namun, negosiasi yang berlangsung selama berminggu-minggu menemui jalan buntu. Pejabat senior AS menyatakan kepada wartawan bahwa Iran bersikeras menolak membicarakan program misil dan uranium mereka.
"Dalam tiga putaran pembicaraan terakhir, Iran dengan tegas menolak untuk bernegosiasi soal program rudal balistik mereka," catat pejabat tersebut, mengutip Times of Israel.
"Mereka tidak mau membicarakannya dengan kami maupun mitra regional kami. Bagi kami, itu adalah situasi yang tidak dapat diterima. Jadi, secara jujur, Presiden tidak punya pilihan lain," tambahnya.
.jpg)
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Anadolu Agency)
Pejabat itu melanjutkan bahwa niat Iran jelas hanya untuk mengulur waktu agar bisa mengembangkan bom nuklir, meskipun AS telah menawarkan berbagai cara untuk program nuklir sipil yang damai.
Pada Jumat, 27 Februari 2026, Trump menyatakan ketidaksenangannya terhadap proses negosiasi tersebut dan menegaskan bahwa kekuatan militer, termasuk perubahan rezim, tetap menjadi opsi yang tersedia.
"Kami tidak senang dengan cara mereka (Iran) bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Trump. Ketika ditanya apakah serangan AS akan mengarah pada perubahan rezim, ia menjawab, "Tidak ada yang tahu. Mungkin saja, mungkin tidak. Akan menyenangkan jika kita bisa melakukannya tanpa itu, tapi terkadang Anda harus melakukannya."
Keesokan harinya, Sabtu, 28 Februari 2026, AS dan Israel meluncurkan serangan udara gabungan yang menghancurkan kediaman Ali Khamenei dan menewaskan sang Pemimpin Agung, menandai berakhirnya kekuasaan panjangnya di Iran.