UOB Indonesia mengambil langkah strategis untuk memperkuat peluang Penanaman Modal Asing (PMA) ke Tanah Air. Di ajang ASEAN Conference 2026 yang digelar di Singapura, UOB Indonesia resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan pengembang kawasan industri terkemuka, PT Surya Cipta Swadaya.
Selain itu, UOB juga memperkokoh kerja sama dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu memfasilitasi investor global secara masif guna mewujudkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia dinilai tetap memiliki daya tarik investasi jangka panjang. Hal ini didorong oleh populasi yang mencapai hampir 300 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam, serta transformasi industri yang terus berjalan.
Wholesale Banking Director UOB Indonesia, Harapman Kasan, menyatakan bahwa pergeseran rantai pasok global membuka peluang besar, khususnya di sektor
manufaktur, hilirisasi, logistik, dan infrastruktur digital. Pihaknya juga telah membentuk satuan tugas bersama pemerintah untuk menjamin kepastian regulasi dan kelancaran perizinan.
"Singapura adalah hub regional. Keuntungan kami adalah mampu menghubungkan investor global yang masuk, terutama mereka yang menempatkan kantor pusat regional di Singapura. Kolaborasi dengan BKPM dan pemerintah sangat penting untuk terus berinteraksi dan mengelola kendala para investor," jelas Harapman dikutip dari
Zona Bisnis Metro TV, Jumat 7 Agustus 2026.
Daya Tarik Hilirisasi dan Kawasan Ekonomi Khusus
Sekretaris Utama Kementerian Investasi/BKPM, Rudy Salahuddin, menyoroti tingginya minat investor asing terhadap program hilirisasi sumber daya alam di Indonesia.
"Dengan luas wilayah dan pasar domestik yang besar, investor melihat potensi yang sangat menjanjikan. Minat ini terlihat jelas pada sektor hilirisasi seperti nikel, batu bara, serta produk agrikultur seperti CPO, yang saat ini didominasi oleh negara-negara Asia Timur," papar Rudy.
Sinergi ekonomi ini juga diperkuat oleh hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura. Duta Besar RI untuk Singapura, Hotmangaraja Pandjaitan, menyebutkan bahwa kedua negara memiliki kekuatan yang saling melengkapi.
"Singapura memiliki keunggulan finansial dan tenaga ahli, sementara kita memiliki lahan luas yang diwujudkan dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Ini menjadi daya tarik bagi pihak Singapura untuk melakukan ekspansi industrinya ke kawasan kita," ujar Hotmangaraja.
Merespons perlambatan arus investasi pada tahun sebelumnya, ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, menilai bahwa penurunan tersebut hanyalah bentuk penyesuaian strategi dari para investor, bukan cerminan melemahnya fundamental ekonomi nasional.
"Adanya sedikit penurunan itu terjadi karena investor mengkaji ulang sektor mana yang patut dilihat secara jangka panjang. Namun, pesannya jelas, kami tetap optimistis bahwa ke depan Indonesia tetap menjadi pasar tumpuan dan tujuan utama masuknya investasi asing," tegas Enrico.