BGN Bakal Luncurkan Radar MBG, Bisa Pantau Menu dan Kandungan Gizi

13 August 2026 16:47

Badan Gizi Nasional (BGN) akan meluncurkan portal Radar MBG. Melalui portal ini, orang tua siswa, guru, hingga masyarakat umum dapat memantau langsung menu harian, kandungan gizi, hingga foto proses produksi makanan di tiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Kami sudah menyiapkan portal, di mana masyarakat, khususnya pihak terkait seperti orang tua, guru, kemudian kepala sekolah, dan kepala daerah, dinas itu bisa kemudian memonitor. Termasuk masyarakat umum bisa memonitor di sekolah mana, menunya apa, foto menunya ada, gizinya mana, dan dimasak di SPPG mana, itu bisa dicek melalui yang kami namakan Radar MBG," kata Kepala BGN Sudaryono,  dalam tayangan Breaking News Metro TV, Kamis, 13 Agustus 2026.

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menginstruksikan seluruh kepala daerah untuk mendukung penuh program ini.

 


Tito menekankan bahwa program MBG sangat menguntungkan daerah karena dibiayai oleh APBN, namun berdampak langsung pada indikator kinerja kepala daerah, seperti penurunan angka stunting, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

"Kendarai program ini untuk kepentingan meningkatkan indikator yang baik kinerja kepala daerah tanpa harus keluar dari APBD. Free. Jadi APBD-nya bisa bekerja untuk yang lain. Nah kira-kira seperti itu," ujar Tito.

Guna memastikan distribusi tepat sasaran, Kemendagri dan BGN melakukan integrasi data biometrik melalui Dukcapil. Dengan teknologi face recognition, setiap penerima manfaat dipastikan hanya mendapatkan satu porsi sesuai haknya.

Data ini juga akan diintegrasikan dengan platform Satu Sehat milik Kemenkes untuk memonitor perkembangan tinggi dan berat badan anak secara berkala.

Sebagai langkah preventif tambahan, pemerintah kini mewajibkan label waktu konsumsi pada setiap wadah makanan dan melakukan uji organoleptik (pengecekan fisik makanan) di sekolah sebelum dibagikan kepada siswa.
 

Tutup 504 dapur


Pada kesempatan yang sama, Sudaryono melaporkan, bahwa pihaknya  secara resmi menutup permanen 504 dapur di seluruh Indonesia karena dinyatakan tidak layak secara sanitasi dan higienis. Hal ini sebagai bentuk langkah tegas BGN dalam menjaga kualitas dan keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sudaryono menegaskan komitmen zero tolerance terhadap potensi keracunan makanan. Langkah ini diambil setelah verifikasi ketat terhadap Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). 

"Ada 504 dapur yang kemudian kami tutup secara permanen karena dinyatakan tidak layak untuk kemudian secara sanitasi dan higienis tidak layak. Sisanya ada sekitar 3.000 yang saat ini sudah mendaftar, sekarang sedang dicek oleh Dinas Kesehatan masing-masing yang kemudian kami tunggu," ujar Sudaryono.

 

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X