Kabut Asap Masih Selimuti Kalteng, Tim Pemadam Terkendala Krisis Air

9 September 2026 14:33

Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) beserta kabut asap pekat hingga saat ini masih menyelimuti wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng). Proses pemadaman dan pendinginan di lahan yang terbakar terus diupayakan oleh Satgas Gabungan, meski terkendala minimnya pasokan air dan rumitnya memadamkan api di lahan gambut.

Berdasarkan pantauan langsung Jurnalis Metro TV Yohana Margaretha di Palangka Raya, salah satu titik kebakaran terbesar berada di area dekat permukiman warga, tepatnya di kawasan Jalan G Obos. Kebakaran yang melalap lahan gambut di dekat pemukiman ini membutuhkan pendinginan ekstra dan berulang agar api dalam sekam benar-benar padam.

Petugas Satpol PP setempat, Irwan, mengungkapkan tantangan utama tim pemadam di lapangan adalah krisis sumber air.

"Untuk perkembangan saat ini kami sudah melakukan penyekatan. Cuma saat ini kami kekurangan sumber air. Sumur bor di tempat masyarakat belum ada, jadi saat ini cuma ada dua mobil tangki yang kami gunakan untuk mem-backup penyekatan," ucap Irwan dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Rabu, 9 September 2026.
 



Kebakaran lahan di Kalimantan Tengah diduga memicu berbagai persoalan mendasar. Selain faktor musim kemarau dan kelalaian seperti buangan puntung rokok, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengindikasikan adanya unsur kesengajaan dalam peristiwa ini.

Beberapa oknum memanfaatkan musim kemarau ekstrem untuk membuka atau membersihkan lahan secara gratis dengan cara membakar. Tidak hanya itu, pembakaran lahan diduga kuat berkaitan dengan konflik sengketa tanah kavlingan yang kepemilikannya belum jelas, baik yang memegang Surat Keterangan Tanah (SKT), sertifikat, maupun hak adat.

Berdasarkan pantauan Jurnalis Metro TV, kondisi di Kota Palangka Raya terbilang masih cukup parah jika dibandingkan dengan Kota Sampit, Kotawaringin Timur. Meski Sampit sempat menjadi wilayah terdampak paling parah dua pekan lalu, situasi kualitas udara di sana kini mulai membaik setelah diguyur hujan beberapa hari terakhir.

Walaupun demikian, pemadaman dan patroli di wilayah Sampit dan sekitarnya tetap dilanjutkan oleh personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, hingga Basarnas.

Di tengah pekatnya asap yang memicu penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta mual-muntah, aktivitas warga di Palangka Raya dan sekitarnya tetap berjalan. Warga di pasar tradisional hingga penarik becak memilih bertahan dan tetap bekerja karena tuntutan ekonomi.

Sebagian warga mengaku pasrah dan menganggap kabut asap sebagai fenomena tahunan yang biasa terjadi. Sikap ini menyoroti perlunya perhatian mendalam dari pemerintah dan otoritas terkait, agar masyarakat tidak terbiasa atau "menormalisasi" bencana alam yang mengancam kesehatan dan hak hidup layak mereka.

(Nopita Dewi)


Close Ads X
Close Ads X