Kabut Asap Ancam Ekosistem, BOSF Perketat Pemantauan 224 Orang Utan

9 September 2026 12:06

Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Tengah tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Salah satu yang paling rentan terdampak adalah orang utan yang kini menghadapi ancaman berlapis, mulai dari hilangnya habitat, menipisnya sumber makanan, hingga paparan polusi udara yang memburuk.

Jurnalis Metro TV, Yohana Margaretha, melaporkan langsung dari Pusat Rehabilitasi Orang Utan Nyaru Menteng untuk memantau kondisi satwa dilindungi tersebut. Di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti kawasan, tim medis dan perawat satwa harus bekerja ekstra keras untuk memastikan kesehatan ratusan primata di fasilitas tersebut tetap terjaga, sekaligus meminimalkan kontak dengan manusia agar sifat liarnya tidak hilang.

Manajer Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, Denny Kurniawan, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 224 individu orang utan yang berada di fasilitas perawatannya. Ia bersyukur kondisi kabut asap tahun ini belum separah tragedi karhutla pada 2015 silam, sehingga mayoritas orang utan masih dalam kondisi stabil.

"Alhamdulillah sekarang orang utan kami masih dalam kondisi yang baik-baik saja, belum ada yang terkena dampak ISPA yang parah. Memang ada beberapa orang utan yang pernah ingusan, bersin, dan itu juga sudah kita lakukan treatment tiga hari dia juga sudah sehat," jelas Denny.
 



Guna meminimalisasi tingkat stres dan menjaga daya tahan tubuh satwa di tengah paparan udara yang buruk, pihak BOSF rutin memberikan asupan multivitamin harian serta berbagai program enrichment di dalam kandang. Selain itu, petugas juga menyemprotkan air ke arah kandang untuk menyegarkan satwa dan menurunkan suhu lingkungan sekitar.

Langkah preventif ini sangat krusial mengingat orang utan rentan terhadap penyakit infeksi saluran pernapasan akut, seperti pneumonia hingga airsacculitis (infeksi kantung udara), yang berisiko fatal jika dipicu oleh asap tebal. Jika ke depan ditemukan gejala gangguan pernapasan, tim medis telah menyiapkan tindakan darurat termasuk penggunaan nebulizer.

Di sisi lain, kemarau panjang yang mengeringkan sumber air juga membawa tantangan baru. BOSF terpaksa mengevakuasi sejumlah orang utan yang sebelumnya telah ditempatkan di pulau pra-pelepasliaran. Dangkalnya debit air sungai yang menjadi batas alami pulau membuat para primata ini mampu menyeberang dan melarikan diri, sehingga mereka harus dikembalikan sementara ke kandang Nyaru Menteng demi keselamatannya.

Sebagai langkah antisipasi darurat jika intensitas karhutla memburuk, BOSF Nyaru Menteng telah menyiagakan tiga regu Tim Reaksi Cepat Pemadam Kebakaran (Damkar) internal.

"Kami ada tiga regu tim Damkar agar api tidak masuk ke dalam wilayah rehabilitasi, itu yang penting. Dan yang kedua, obat-obatan multivitamin segala macam itu yang kita stok untuk kebutuhan kita ketika nanti memang terjadi kabut asap seperti tahun 2015," tegas Denny.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X