9 September 2026 12:06
Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda wilayah Kalimantan Tengah tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Salah satu yang paling rentan terdampak adalah orang utan yang kini menghadapi ancaman berlapis, mulai dari hilangnya habitat, menipisnya sumber makanan, hingga paparan polusi udara yang memburuk.
Jurnalis Metro TV, Yohana Margaretha, melaporkan langsung dari Pusat Rehabilitasi Orang Utan Nyaru Menteng untuk memantau kondisi satwa dilindungi tersebut. Di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti kawasan, tim medis dan perawat satwa harus bekerja ekstra keras untuk memastikan kesehatan ratusan primata di fasilitas tersebut tetap terjaga, sekaligus meminimalkan kontak dengan manusia agar sifat liarnya tidak hilang.
Manajer Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) Nyaru Menteng, Denny Kurniawan, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 224 individu orang utan yang berada di fasilitas perawatannya. Ia bersyukur kondisi kabut asap tahun ini belum separah tragedi karhutla pada 2015 silam, sehingga mayoritas orang utan masih dalam kondisi stabil.
"Alhamdulillah sekarang orang utan kami masih dalam kondisi yang baik-baik saja, belum ada yang terkena dampak ISPA yang parah. Memang ada beberapa orang utan yang pernah ingusan, bersin, dan itu juga sudah kita lakukan treatment tiga hari dia juga sudah sehat," jelas Denny.