Medan: Buku berjudul "Menelusuri Jejak Pengabdian dan Lahirnya Suryapalohisme" resmi diluncurkan di Medan, Sumatra Utara, Jumat 24 Juli 2026. Buku yang ditulis Ketua DPW Partai NasDem Sumatra Utara, Iskandar, itu dipersembahkan sebagai hadiah ulang tahun ke-75 Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sekaligus didedikasikan sebagai warisan pemikiran bagi generasi mendatang.
Iskandar mengatakan buku tersebut lahir dari pengalaman pribadinya selama lebih dari 15 tahun mendampingi Surya Paloh sebagai kader Partai NasDem. Menurutnya, berbagai pemikiran dan nilai yang dipegang Surya Paloh perlu didokumentasikan agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
"Jadi saya sebagai kader Partai NasDem, saya telah mengikuti Bapak Surya Paloh lebih dari 15 tahun. Dalam 15 tahun itu saya mendapat pengalaman empiris bersama beliau, yaitu mendengar, melihat, mencermati, dan merasakan secara langsung pikiran, ucapan, dan perbuatan beliau. Dari situ saya melihat banyak sekali ajaran-ajaran atau pemahaman yang menurut saya sangat penting untuk diwariskan bagi generasi yang akan datang, khususnya bagi kader Partai NasDem. Maka itu saya mencoba merangkumkannya dalam satu buku," ujar Iskandar dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Sabtu 25 Juli 2026.
Ia menegaskan buku tersebut bukan sekadar hadiah ulang tahun bagi Surya Paloh, melainkan hadiah untuk seluruh masyarakat Indonesia. Menurutnya, perjalanan Surya Paloh selama lebih dari enam dekade di dunia organisasi, pers, usaha, dan politik menyimpan banyak pelajaran mengenai pengabdian kepada bangsa.
Dalam buku tersebut, Iskandar memperkenalkan konsep "Suryapalohisme" yang disebutnya bukan sebagai ideologi baru ataupun pengganti ideologi negara. Konsep itu dirumuskan sebagai kerangka nilai yang bertumpu pada empat pilar, yakni Restorasi Nilai, Nasionalisme Inklusif, Integritas Moral, dan Idealisme Adaptif.
Surya Paloh mengaku terharu menerima buku yang didedikasikan untuk dirinya. Ia menyampaikan apresiasi kepada penulis dan berharap gagasan yang dituangkan dalam buku tersebut dapat memberi manfaat bagi kemajuan bangsa.
"Tetapi apa pun juga saya yakin dan percaya bahwasanya sebuah niat baik dengan pemahaman yang barangkali cukup lama sebagai orang yang cukup dekat dengan saya, penulis pasti memahami benar beberapa pemikiran-pemikiran yang menyangkut sebuah obsesi untuk kita ingin melihat kemajuan berbangsa dan bernegara," kata Surya Paloh.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran masyarakat dalam menjalankan demokrasi secara seimbang antara hak dan kewajiban.
"Gagasan yang paling pertama adalah bagaimana segera kita membangun kesadaran masyarakat untuk bisa menyadarkan bahwasanya model dan sistem
demokrasi yang begini bebas di negeri ini, apabila kita tidak menyeimbangkan hak dan kewajiban kita, demokrasi ini tidak akan memberikan asas manfaat yang positif. Bahkan dia akan menjadi bumerang bagi kehidupan kebangsaan kita," ujarnya.
Menurut Surya Paloh, kekayaan sumber daya alam saja tidak cukup membawa Indonesia menjadi negara maju tanpa didukung karakter yang kuat, disiplin, etos kerja, dan sportivitas.
Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem Hermawi Taslim turut mengapresiasi nilai-nilai yang selama ini diajarkan Surya Paloh kepada para kader.
"Kita selalu memikirkan yang lebih besar. Kami diajarkan misalnya kepentingan bangsa. Kalau kepentingan bangsa berbenturan dengan kepentingan partai, kepentingan partai kita korbankan. Kalau kepentingan partai, keluarga, pribadi, kelompok bertentangan dengan kepentingan bangsa, kepentingan kelompok dan pribadi kita tinggalkan. Jadi beliau selalu mengutamakan kepentingan yang lebih besar," kata Hermawi.
Peluncuran buku berlangsung meriah dengan dihadiri ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan. Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Sekretaris Jenderal DPP Partai NasDem Hermawi Taslim, anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, para Ketua DPW Partai NasDem dari seluruh Indonesia, Ketua DPRD dan Ketua DPD Partai NasDem kabupaten/kota se-Sumatra Utara, kepala daerah, anggota DPRD Fraksi Partai NasDem, sultan dan raja adat se-Sumatra Utara, tokoh agama, tokoh budaya, tokoh masyarakat, rektor beserta sivitas akademika, serta para Konsul Jenderal Jepang, Amerika Serikat, India, Singapura, dan Turki.