Dulu Ditolak, Kini Indonesia Mau Impor KRL Bekas dari Jepang

17 October 2026 12:31

Jakarta: PT KAI diketahui kembali mengusulkan impor KRL bekas pakai dari Jepang. KAI menilai langkah ini sebagai solusi darurat untuk mengatasi ancaman krisis atau kekurangan armada KRL Jabodetabek pada periode 2026 sampai dengan 2029 nanti. 


Dulu ditolak, kini Indonesia mau impor KRL bekas dari Jepang


Dulu memang sempat ditolak, tapi opsi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan perjalanan di Jabodetabek.   
Ada 23 trainset KRL dari Jepang diimpor bertahap pada akhir 2026, yang terdiri atas:   
  • 7 trainset dengan formasi 12 kereta,   
  • Kemudian 16 trainset dengan formasi 8 kereta.   
Perbedaan jumlah kereta dalam satu rangkaian ini disesuaikan nanti dengan kondisi infrastruktur di sejumlah stasiun yang ada di Jabodetabek. Misalnya kalau kita lihat di Stasiun Tanjung Priok sampai dengan Kota, itu hanya bisa optimal kalau trainset-nya terdiri dari 8 gerbong kereta, berbeda dengan stasiun-stasiun lain.   

Langkah inilah yang kemudian ditempuh untuk menambah kapasitas angkutan KRL Jabodetabek yang terus mengalami peningkatan jumlah penumpang, sekaligus menjadi solusi sementara di tengah kapasitas produksi kereta dalam negeri yang belum mampu memenuhi kebutuhannya.  

KAI kekurangan armada, penumpang terus bertambah


Kebutuhan ini semakin perlu dipenuhi karena pertumbuhan penumpang KRL Jabodetabek nyata. Kita lihat:   
  • 1,1 juta penumpang KRL Jabodetabek per hari. Ini adalah angka di hari yang jam-jam padat. Kalau jam-jam tertentu atau hari-hari tertentu kadang bisa 1,3 juta penumpang KRL Jabodetabek per harinya.   
  • Kepadatan penumpang itu jika diibaratkan dalam ruangan 1 meter persegi harus berdiri sampai dengan 12 orang, sekitar dua kali standar ideal KAI (Lintas Rangkasbitung).
  • 105 trainset kebutuhan KAI (termasuk cadangan dan perawatan).   

Target dan trainset setahun, INKA baru penuhi produksi 2-3 trainset


Jika kita bicara soal bagaimana kondisi hari ini, ternyata penumpang kereta rel listrik di Jabodetabek mengalami peningkatan, dan ini tentu perlu penyesuaian dengan jumlah rangkaian kereta yang beroperasi per harinya.  

Di tahun 2023 PT KAI menyetujui nilai kontrak Rp3,85 triliun dengan memesan total 16 rangkaian atau trainset yang didatangkan mulai tahun 2025.   

Namun hingga September 2026, baru 7 rangkaian yang beroperasi. Padahal proyeksi INKA bisa memproduksi 8 trainset per tahun, tetapi ternyata yang terealisasi di angka 2 sampai dengan 3 trainset per tahun.   

Produksi terbatas inilah yang membuat KAI perlu impor untuk menutupi kekurangan armada seiring dengan peningkatan jumlah penumpang. Ditambah ada beberapa keluhan terkait dengan produk dalam negeri yang ternyata sering kali menemukan kendala pada saat proses operasionalnya. 

Hingga 2031 87 trainset harus diganti


Di sisi lain, KAI menghadapi persoalan usia armada:   92 trainset sudah berusia lebih dari 40 tahun.   
Saat mendekati usia 45 tahun, ketersediaan suku cadang dan risiko kelelahan material menjadi tantangan tersendiri karena sudah saking lamanya dipakai.   
Diperkirakan sekitar 87 trainset harus diganti hingga tahun 2031, kurang lebih sekitar 5 tahun dari sekarang.

Sementara itu, di tahun 2026 ini KAI memproyeksikan akan kekurangan sampai dengan 22 trainset akibat keterlambatan pengiriman armada dan juga keharusan untuk konservasi 13 trainset lama. Konservasi ini penting karena ini menyangkut dengan usia kereta tersebut dan perlu ada evaluasi yang serius.   


Dulu impor KRL bekas ditolak


Rencana impor kereta bekas sebenarnya bukan hal baru. Ini sudah muncul dulu tahun 2023 tapi sempat ditolak:   
  • Tahun 2023, pemerintah menolak impor KRL bekas Jepang dan memilih me-retrofit KRL lama serta pengadaan KRL baru produksi INKA. Pada akhirnya pemerintah memilih untuk memenuhi kebutuhan KRL dengan membeli unit baru dari perusahaan Tiongkok dan juga dari lokal PT INKA, serta melakukan retrofit KRL yang lama.   
  • Saat itu, impor KRL tidak bisa terwujud karena rekomendasi impor dari kementerian teknis tidak lengkap di tahun 2023. Di sisi lain, audit dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) juga menyarankan agar tidak mengimpor KRL bekas pada saat itu.   
  • Saat ini, kebutuhan armada kembali mendesak, KAI kembali mengusulkan impor KRL bekas Jepang sebagai transisi, dan disetujui Komisi VI DPR. 


Pernyataan Dirut PT KAI


Berbeda dengan hari ini, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan: "Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas, ini hanya untuk transisi."

Setelah mendapatkan persetujuan, rangkaian bekas itu diperkirakan bisa didatangkan ke Indonesia dari Jepang dan digunakan dalam waktu sekitar 1 sampai dengan 2 bulan setelahnya. Sedangkan kalau dibandingkan dengan pengadaan kereta yang baru, itu butuh waktu yang lebih lama.   

Dan KAI juga berencana untuk menggunakan rangkaian KRL bekas ini dalam kurun waktu yang terbatas. Bobby Rasyidin menambahkan: "KRL bekas Jepang dipilih karena lebih dekat didatangkan, dan sistemnya sesuai dengan Indonesia."

Jadi armada impor ditargetkan menjadi jembatan selama industri dalam negeri memperbaiki kapasitas produksinya, sekaligus memenuhi kebutuhan perjalanan KRL yang terus meningkat.  

Ada pro kontra dari mendatangkan KRL bekas dari Jepang. Tapi dengan kebutuhan tersebut, impor KRL bekas jadi salah satu opsi jangka pendek yang mungkin disiapkan oleh KAI supaya bisa menjaga kecukupan armada dalam jangka waktu tertentu saat ini.   

Pelaksanaannya tetap bergantung pada pemenuhan regulasi, termasuk rekomendasi kementerian teknis dan batas usia maksimal kereta yang diperbolehkan untuk digunakan di Jabodetabek, dan yang pasti adalah tanpa melupakan kenyamanan dan keamanan pengguna KRL Jabodetabek.

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X