Surya Paloh Tekankan Nilai Gotong Royong dan Pendidikan dalam Misi Kemanusiaan

6 November 2026 14:36

Jakarta: Founder and Chairman Media Group, Surya Paloh, menyampaikan pandangannya mengenai perjalanan misi kemanusiaan yang telah dijalaninya selama lebih dari dua dekade usai menerima penghargaan Humanity Award dalam ajang Bosphorus Summit ke-17 di Istanbul, Turki. Dalam refleksinya, ia menekankan pentingnya nilai keikhlasan, semangat gotong royong, hingga investasi pendidikan jangka panjang untuk membangun masa depan bangsa.

Menilik perjalanan kemanusiaan mulai dari Aceh hingga Filipina Selatan, Surya Paloh menyebut setiap momen memiliki kesan tersendiri. Menurutnya, nilai kemanusiaan lahir dari kesadaran pribadi untuk menumbuhkan rasa empati dan memberikan bantuan kepada sesama yang membutuhkan, dengan berlandaskan keikhlasan.

"Pada dasarnya, nilai-nilai kemanusiaan itu lahir dari bangun kesadaran kita secara pribadi, bagaimana melihat dan memberikan rasa empati pada sesama umat manusia yang memerlukan perhatian. Tapi yang lebih penting daripada itu, semuanya didasari oleh keikhlasan. Inilah yang bisa memberikan arti dari pendekatan nilai-nilai kemanusiaan itu lebih sempurna," ujar Surya Paloh dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia Metro TV, Jumat 6 November 2026. 

Ia juga menyoroti pentingnya gotong royong dalam membangun solidaritas dan kepedulian sosial saat ini. Bagi Surya Paloh, gotong royong merupakan nilai luhur warisan para pendiri bangsa (the founding fathers) yang harus terus menjadi pegangan bersama.

"Itu adalah sebuah values yang paling berarti yang telah ditinggalkan atau diberikan oleh the founding fathers kita. Itu harusnya menjadi pegangan kita semuanya. Semua kita bisa bersama-sama melaksanakan pikiran-pikiran besar itu," tuturnya.

Lebih lanjut, komitmen kemanusiaan tersebut diwujudkan secara berkelanjutan melalui Yayasan Sukma dan Sekolah Sukma Bangsa, yang mengubah bantuan darurat pascabencana menjadi investasi pendidikan jangka panjang. Surya Paloh memandang pendidikan sebagai fondasi paling utama agar sebuah bangsa dapat bertahan dan tetap eksis.

Ia mengingatkan bahwa Undang-Undang Dasar juga telah mengamanatkan prioritas anggaran pendidikan minimal 20 persen dibandingkan sektor lainnya. Menurutnya, kebijakan tidak boleh hanya berfokus pada kepentingan hari ini, melainkan harus mempersiapkan generasi masa depan.

"Kita tidak boleh hanya melihat kondisi atau kepentingan untuk keputusan kebijakan hari ini, tapi juga tidak kalah pentingnya mempersiapkan masa depan generasi berikutnya dalam perjalanan kehidupan kebangsaan kita," tegas Surya Paloh.

Komitmen nyata itu kini membuahkan hasil manis. Sejumlah penyintas tsunami Aceh yang dahulu menerima bantuan pendidikan, kini telah tumbuh menjadi guru dan turut mendidik generasi berikutnya. Surya Paloh mengaku bersyukur melihat apa yang ditanam dengan keikhlasan hati dapat memberikan manfaat nyata secara berkelanjutan.

Selain di dalam negeri, misi kemanusiaan juga pernah membawanya terlibat dalam upaya pembebasan warga negara Indonesia (WNI) yang disandera di Mindanao, Filipina Selatan. Ia menjelaskan bahwa misi tersebut merupakan kerja kolektif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk jajaran Media Group dan Yayasan Sukma Bangsa, melalui berbagai jalur diplomasi demi keselamatan para sandera.

Menutup pesannya, Surya Paloh memberikan dorongan semangat kepada masyarakat Aceh, khususnya para guru dan relawan yang terus melanjutkan perjuangan kemanusiaan hingga hari ini. Ia berharap mereka terus menjaga impian besar untuk kemajuan bangsa.

"Mereka tetap harus mempunyai impian-impian besar dan itu tidak boleh mereda, tidak boleh terhapuskan. Bahwasanya suatu ketika mereka justru mampu memberikan kontribusi yang lebih besar, bukan hanya terbantu pada waktu yang telah mereka lalui, tapi suatu ketika mereka justru yang akan bisa memberikan bantuan lebih berarti bagi kemajuan perjalanan kehidupan kebangsaan ini," pungkasnya.

(Reno Panggalih Nuha Lathifah)


Close Ads X
Close Ads X