50 Hari Karhutla, El Nino atau Soal Ketegasan?

24 September 2026 00:43

Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Masa kritis Karhutla diprediksi masih akan terus berlanjut hingga 50 hari ke depan akibat mundurnya musim hujan yang dipicu oleh fenomena El Nino.

Ulah tak terpuji datang dari Choirussaib (Bang Choy), seorang anggota DPRD Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dari Partai Hanura. Melalui akun TikTok pribadinya, ia membagikan aktivitas saat membakar tumpukan kayu di area perkebunannya untuk ditanami bibit kelapa sawit. Video tersebut viral dan memicu kecaman luas. Kasus ini kini tengah diusut pihak kepolisian, sementara yang bersangkutan telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
 



Di tengah sorotan tersebut, aparat kepolisian terus menggencarkan penegakan hukum. Hingga saat ini, sebanyak 162 tersangka perorangan dan 95 korporasi telah ditetapkan secara nasional. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, polisi kembali meringkus tiga tersangka baru berinisial AL, WW, dan satu orang lainnya yang nekat membuka lahan perkebunan sawit dengan cara dibakar.

Lahan Gambut yang Membara

Kendati penegakan hukum berjalan, Karhutla di Kalimantan terus meluas. Luas kebakaran di Kalimantan Timur hingga saat ini telah mencapai 6.684 hektare, sementara di Kalimantan Selatan mencatat angka fantastis hingga 46.000 hektare.

Upaya pemadaman oleh petugas gabungan menemui kendala berat akibat karakteristik lahan gambut. Berdasarkan laporan jurnalis Metro TV dari lapangan, pembasahan yang dilakukan petugas sejauh ini baru menyasar bagian permukaan. Sementara itu, di bagian bawah, api dan bara masih menyala di dalam kedalaman gambut. Ketika dipantik oleh tiupan angin kencang, bara tersebut dapat kembali memicu kobaran api di atas permukaan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan bahwa pemerintah berfokus memantau data titik api secara terintegrasi agar pengerahan personel dan sumber daya ke titik-titik krusial seperti Kabupaten Banjar, Banjarbaru, hingga Barito Kuala dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Dampak Kesehatan dan Transportasi

Dampak buruk Karhutla kini kian mencekik kehidupan warga. Di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, jarak pandang yang buruk akibat kabut asap pekat memaksa sejumlah maskapai menunda jadwal penerbangan.

Krisis kesehatan turut menghantui masyarakat, terutama di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan setempat mencatat lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 7.405 orang sejak Januari hingga Agustus 2026, dengan keluhan mulai dari batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga sesak napas.

Terus berulangnya bencana Karhutla di Kalimantan bukan lagi sekadar musibah musiman biasa, melainkan ancaman nyata bagi masa depan warga. Ketika pejabat publik pun ikut terseret menjadi pelaku pembakaran, penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu menjadi harga mati agar paru-paru Indonesia tidak terus tergerogoti.

(Sofia Zakiah)


Close Ads X
Close Ads X