Perajin Magelang Sulap Batuan Sisa Erupsi Merapi Jadi Cobek Ekspor Bernilai Tinggi

24 January 2026 18:52

Material vulkanik sisa erupsi Gunung Merapi kini menjelma menjadi produk bernilai ekonomi tinggi berkat tangan-tangan terampil perajin di Dusun Ngipik, Desa Gondosuli, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bongkahan batu Merapi diolah menjadi cobek batu berkualitas yang bahkan telah menembus pasar internasional.

Deru mesin gerinda dan ketukan pahat menjadi pemandangan sehari-hari di dusun tersebut. Salah satu penggerak utama, Siti Hidayati, bersama sekitar 15 pekerja mengolah batu Merapi menjadi berbagai peralatan dapur fungsional.

Usaha kerajinan ini dirintis Siti sejak pasca erupsi besar Gunung Merapi 2010. Ia memilih memanfaatkan batu vulkanik lokal karena memiliki karakteristik unik yang tidak dimiliki batu kali pada umumnya.

“Batu asli Merapi itu teksturnya pas, tidak terlalu keras dan punya pori-pori yang cocok untuk menghaluskan bumbu masak,” ujar Siti.

Untuk menjaga kualitas produk, Siti menerapkan standar produksi yang ketat. Satu buah cobek memerlukan waktu pengerjaan sekitar dua hari, melalui tahapan pemotongan bahan, pembubutan, hingga proses finishing. Sistem kerja diterapkan secara borongan, dengan kapasitas produksi per pekerja dapat mencapai puluhan cobek per hari, tergantung tingkat kesulitan.

Selain itu, sistem sortir kualitas menjadi kunci utama. Produk dibagi dalam beberapa kelas, dan hanya cobek dengan kategori A atau tanpa cacat  yang dipasarkan. Langkah ini dilakukan demi menjaga kepercayaan pelanggan.
 

Baca juga: Road to Juragan Jaman Now Season 5

Kualitas dan kreativitas para perajin Dusun Ngipik membuahkan hasil. Selain dipasarkan ke berbagai kota besar di Sumatra dan Kalimantan, cobek batu Merapi kini telah menembus pasar Australia.

Tak ingin terpaku pada bentuk konvensional, para perajin terus berinovasi. Selain cobek bulat untuk kebutuhan dapur, mereka juga memproduksi cobek dengan bentuk unik seperti bunga, buah, hingga karakter kartun untuk menyasar pasar suvenir wisata.

“Bentuknya ada macam-macam, ada buah, karakter kartun seperti Hello Kitty, mangga, bebek, bunga, oval, kotak, dan lainnya,” jelas Siti.

Produk cobek batu Merapi ini dipasarkan dengan rentang harga mulai dari Rp10 ribu hingga Rp200 ribu per buah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan desain.

Kerajinan ini menjadi bukti bahwa material alam sisa bencana, jika dikelola dengan keahlian dan kreativitas, dapat berubah menjadi komoditas unggulan bernilai ekspor. Lebih dari sekadar produk, cobek batu Merapi kini menjadi simbol ketahanan, inovasi, dan kearifan lokal warga Magelang yang hadir di dapur-dapur berbagai belahan dunia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggie Meidyana)