18 July 2026 21:06
Pengamat Hubungan Internasional Dinna Prapto Raharja menilai terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran dinilai tidak lagi semata-mata didorong kepentingan militer, melainkan juga bermotif politik. Presiden AS Donald Trump berupaya menjaga citranya agar tidak dipersepsikan sebagai pemimpin yang kalah di hadapan publik AS.
"Sangat sensitif kalau bacaan saya ya, sensitif terhadap lose, being loser. Jadi kalau dia kalah sedikit saja itu akan menghapuskan segala macam pertimbangan sebenarnya dalam jangka panjang dia. Bisa lebih untung kalau dia lebih tenang. Itu nggak begitu pola dia. Pola Trump itu adalah lebih fokus pada jangan sampai ada siapapun bicara di belakang dia tentang betapa lemahnya dia," ujar Dinna dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Sabtu 18 Juli 2026.
Ia menilai langkah Trump justru bertentangan dengan nota kesepahaman yang sebelumnya disusun untuk menciptakan stabilitas.
"MoU dengan Iran ini kalau kita perhatikan poin-poinnya memang pada dasarnya akan menciptakan satu stabilitas. Tapi untuk Trump sendiri akan makin nampak memang bahwa keputusan dia melakukan serangan kepada Iran adalah keputusan yang keliru," tambahnya.
Penilaian serupa disampaikan akademisi Ismail Amin yang berada di Teheran. Menurutnya, kebijakan agresif Trump memiliki dimensi politik domestik yang sangat kuat dan tidak bisa hanya dipandang sebagai strategi militer.
"Saya melihat kebijakan agresif Trump ini terhadap Iran kali ini itu tidak bisa dibaca semata-mata sebagai strategi militernya, tetapi dimensi politik domestiknya itu sangat kuat. Trump sedang berusaha membangun kesan bahwa ia masih memegang kendali, masih mampu menekan Iran, dan tidak sedang kehilangan daya tawar," kata Ismail.
Ia menambahkan, operasi militer juga dimanfaatkan Trump untuk membangun citra politik di tengah tekanan terhadap kepemimpinannya.
"Dalam situasi seperti ini serangan militer itu sering dipakai bukan hanya untuk menghancurkan target, tetapi juga untuk membangun citra politik. Jadi menurut saya ada unsur menjaga muka. Trump tidak ingin terlihat gagal di hadapan publik Amerika, terutama setelah Iran tetap mampu membalas dan menyerang sejumlah kepentingan Amerika di kawasan," ujarnya.