Warga Gaza Lewati Iduladha Tanpa Hewan Kurban

26 May 2026 19:49

Perayaan hari raya Iduladha di Gaza, kembali kehilangan sukacita di tengah kelangkaan pasokan, lonjakan harga yang gila-gilaan, serta puing-puing kehancuran pasca perang. Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, warga Gaza terpaksa merayakan hari raya tanpa adanya ritual penyembelihan hewan kurban akibat blokade yang masih berlangsung.

"Tiga hari raya telah berlalu. Iduladha tiba dan kami praktis tidak memiliki apa-apa." Warga Gaza, Nasma Al-Sha'ir, dikutip dari tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 26 Mei 2026.

Suasana di lingkungan Al-Rimal, pusat Kota Gaza, memperlihatkan warga yang hanya bisa berjalan di antara lapak dan tenda darurat yang didirikan di sekitar bangunan yang hancur. Para pedagang pakaian pun terpaksa menggelar dagangan di dalam posko pengungsian dan toko-toko yang sebagian telah runtuh. Kementerian Pertanian Gaza menyatakan pada 17 Mei lalu bahwa warga kembali melewati Iduladha tanpa hewan kurban
 

Baca juga: Berkurban dengan Aman, Waspadai Penyakit Zoonosis dan Sapi Gelonggongan


Hal ini terjadi akibat pembatasan dari pihak Israel serta larangan masuknya hewan ternak ke dalam Jalur Gaza. Padahal sebelum perang, Gaza biasanya mengimpor 10.000 hingga 20.000 sapi, serta 30.000 hingga 40.000 domba setiap tahunnya, khusus untuk musim Iduladha.

Kondisi ini membuat harga daging segar pun meroket tajam jauh di luar jangkauan warga. Jika sebelum konflik harga satu kilo daging hanya sekitar 30 shekel, pada Iduladha lalu harganya melonjak hingga 350 shekel atau setara 100 dolar Amerika Serikat. Dan pada hari raya kali ini pasokan daging tetap kosong.

"Harga satu kilo daging pada Iduladha lalu sekitar 350 shekel atau kira-kira 100 dolar, padahal awalnya hanya 30 shekel untuk daging segar. Sayangnya kali ini pun tidak ada daging, atau jumlah yang tersedia sangat sedikit." ucapnya.

Konflik yang dimulai sejak 7 Oktober 2023 ini telah meninggalkan luka mendalam dengan catatan 72.772 warga Palestina tewas, dan 172.707 lainnya luka-luka. Kini harapan warga bertumpu pada proses perdamaian dan rekonstruksi tahap kedua yang diselenggarakan utusan khusus Amerika Serikat demi memulihkan kondisi Gaza secara bertahap.

(Nopita Dewi)