Makkah: Ibadah haji di Tanah Suci tidak hanya menguras energi fisik, tetapi juga menuntut ketahanan mental yang prima. Perubahan lingkungan yang drastis serta suhu ekstrem, memicu ancaman gangguan psikis berupa disorientasi akut, khususnya bagi jemaah lansia.
Kelelahan fisik dan hilangnya fokus akibat dehidrasi menjadi faktor utama yang paling diwaspadai petugas saat ini. Pendampingan ekstra ketat pun terus ditingkatkan di lapangan.
Dokter Spesialis Jiwa di Klinik Kesehatan Haji Indonesia atau KKHI Makkah, dr. Rismayanti menjelaskan, kelompok lansia merupakan yang paling rentan mengalami disorientasi karena kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru yang ekstrem. |
Gejala awal disorientasi umumnya ditandai dengan kebingungan jemaah terhadap lokasi, waktu, hingga orang-orang di sekitarnya. Jemaah kerap lupa arah pulang atau tidak menyadari aktivitas yang sedang dilakukan.
Jika menemukan gejala ini, jemaah terdekat atau pihak keluarga diimbau segera melakukan reorientasi dengan mengingatkan lokasi secara tenang, serta memberikan cairan oralit. Jemaah juga bisa langsung lapor ke petugas kesehatan di kloter.
Kolaborasi antara pendamping, ketua kloter, dan petugas medis dinilai efektif mempercepat pemulihan. Namun, langkah pencegahan tetap menjadi prioritas utama.
Pihak medis juga mengimbau jemaah lansia membatasi ibadah sunnah yang berulang demi menjaga kebugaran fisik menjelang puncak haji mendatang.