20 August 2026 21:21
Indonesia bersiap mengukir sejarah dengan menjadi tuan rumah konferensi polisi wanita terbesar di dunia, International Association of Women Police (IAWP) 2026. Bertempat di Bali pada 20-24 September mendatang, ajang ini akan mempertemukan delegasi dari 75 negara untuk merumuskan masa depan kepolisian yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Dirtipid PPA-PPO Bareskrim Polri, Brigjen Pol Nurul Azizah, menegaskan bahwa penunjukan Indonesia adalah bukti nyata kepercayaan dunia terhadap transformasi Polri. Menurutnya, IAWP 2026 bukan sekadar seremoni, melainkan panggung bagi Polwan Indonesia untuk menunjukkan taji di ruang strategis.
"Kapasitas yang harus terus perlu diperkuat yaitu kapasitas pengetahuan atau kompetensi, kemudian kapasitas di dalam kepemimpinan atau leadership, dan kapasitas membangun jejaring. Tantangan kepolisian itu semakin kompleks. Kemudian perkembangan teknologi juga berkembang dengan pesat, dan kejahatan itu tidak lagi mengenal batas wilayah." ujar Brigjen Nurul dalam tayangan Primetime News Metro TV, Kamis, 20 Agustus 2026.
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, melihat momentum ini sebagai peluang emas untuk memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak di Tanah Air. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral untuk menghapus "ego sektoral" dalam penanganan kasus.
"Jadi 6 kementerian itu adalah Kementerian Kesehatan, Polri, Kementerian PPPA, Kementerian Sosial, Kementerian Komdigi, karena sekarang basis digital ini sangat penting banget karena kita sudah tidak bicara soal jam-jam, kita bicara menit. Bagaimana me-take down, bagaimana mempunyai satu platform siapa berbuat apa, kira-kira pedoman juknisnya seperti apa. Ini sedang kita bahas dan kita terus lakukan pertemuan-pertemuan sehingga antara Jaksa, antara Kemenkumham, juga bagaimana sampai kepada polisi itu untuk bagian penegakan hukum dan me-take down digital," tutur Veronica Tan.
Ia juga mendorong adanya kebijakan afirmatif agar lebih banyak sekolah Polwan (Lemdiklat) tersedia untuk mencetak role model hebat.
Baca Juga :
Diplomasi Mangrove dan Budaya
IAWP 2026 juga membawa misi kemanusiaan dan lingkungan. Melalui agenda penanaman mangrove, para polisi wanita dunia ingin menunjukkan tanggung jawab mereka terhadap isu global seperti perubahan iklim. Selain itu, Parade of Nations dan Indonesia Night akan menjadi sarana diplomasi budaya untuk menunjukkan bahwa di tengah keberagaman, solidaritas penegak hukum dunia tetap satu.
"Indonesia itu dikenal karena budayanya. Jadi kalau kita bicara soal budaya itu secara dengan kita melihat pertunjukan kolaborasi aja itu sudah mild. Artinya semua hal yang terjadi dengan sesuatu yang keras itu akan jatuh ketika kita muncul dengan kebersamaan kita melalui budaya. Inilah keunggulan kita" tambah Veronica.
Warisan dari Bali untuk Dunia
Melalui tema “Women Leading Global Change”, Indonesia berharap IAWP 2026 meninggalkan legacy yang kuat bagi komunitas polisi wanita global.
“Saya ingin Polwan seluruh dunia kembali ke negaranya masing-masing dengan perspektif baru, dengan semangat baru, kemudian mereka melakukan sesuatu yang baru juga di negara masing-masing sehingga ada pesan yang mengatakan bahwa sepulang dari Bali, Women Can Lead, kemudian Women Can Collaborate, and Women Can Create Meaningful sesuai dengan tema kita hari ini.,” pungkas Brigjen Nurul.
Konferensi ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan peran perempuan dalam kebijakan keamanan global, memastikan dunia menjadi tempat yang lebih aman melalui sentuhan kepemimpinan perempuan.