Demi merampas cadangan minyak Venezuela, imperialisme Amerika Serikat (AS) meluluhlantakkan Ibu Kota Caracas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menculik Presiden Venezuela Nicholas Maduro setelah menginvasi Venezuela.
Menteri Luar Negeri Venezuela menyatakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah mengeluarkan keputusan untuk mengumumkan keadaan darurat di negaranya dan beralih ke pertempuran bersenjata.
Yvan Gil menyatakan serangan AS itu bertujuan untuk merampas sumber daya negara khususnya minyak dan gas. Berbulan-bulan, Trump mengecam akan segera memerintahkan serangan terhadap Venezuela.
Trump juga telah memblokade kapal tanker dan menyerang kapal-kapal hingga menewaskan ratusan orang untuk menekan Venezuela.
Presiden Nicolas Maduro mengatakan AS ingin memaksakan perubahan pemerintahan di Venezuela dan mendapatkan akses terhadap cadangan minyak yang besar melalui tekanan berbulan-bulan dan mencuri minyak Venezuela ke laut Karibia.
Meskipun memiliki cadangan minyak terbesar di dunia hingga 303 miliar barel pada 2023, Venezuela hanya mengekspor minyak mentah senilai 4,5 miliar dolar Amerika Serikat jauh di bawah negara-negara penghasil minyak utama lainnya.
Sebagian karena sanksi AS yang diberlakukan pada masa kepresidenan Trump yang pertama. Ancaman demi ancaman terus dilantangkan Donald Trump. Termasuk saat di tengah proses persidangan Maduro, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberi sinyal bahwa Kolombia akan menjadi target operasi selanjutnya.
Trump menuding pemimpin Kolombia memproduksi
kokain dan memperdagangkannya ke Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa Kuba akan ikut jatuh setelah serangan Amerika Serikat ke Venezuela.
Menurutnya, saat ini Kuba tak lagi memiliki penghasilan karena selama ini bergantung pada minyak bumi Venezuela. Sasaran lainnya yang diincar adalah
Greenland.
Trump mengatakan akan mengamankan Greenland karena wilayah tersebut dikelilingi kapal Rusia dan Tiongkok. Greenland diketahui memiliki caran elemen tanah jarang atau rare earth yang menjadi salah satu sumber energi penting.
Pakar geopolitik dan petahanan Connie Rahakundini Bakrie menyebut Amerika Serikat tidak mau ada satu negara manapun yang berpotensi mengancam AS. Venezuela selama ini dinilai dekat dengan Rusia dan Tiongkok sehingga harus dikendalikan lebih awal.