Menhut Raja Juli Ungkap Penurunan Titik Panas Karhutla, Riau dan Jambi Capai Nol Hotspot

1 September 2026 17:31

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyampaikan perkembangan terbaru terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi El Nino yang kuat pada 2026. Dalam keterangannya, Menhut menyoroti penurunan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di beberapa wilayah rawan berkat kerja sama intensif tim di lapangan.

Data per 31 Agustus 2026 menunjukkan kabar baik bagi Provinsi Riau dan Jambi yang kini mencatatkan nol titik panas selama dua hari berturut-turut. Menhut menjelaskan bahwa meskipun hotspot sudah tidak terdeteksi, tim tetap melakukan pendinginan intensif di lahan gambut karena potensi munculnya asap yang masih tinggi meski api di permukaan telah padam.

“Dua provinsi yang paling bawah yaitu Riau dan Jambi itu hotspotnya sudah nol Alhamdulillah. Jadi Alhamdulillah kalau hotspotnya nol insyaallah di bawahnya juga pasti tidak ada firespot. Cuman karakter gambut ya biasanya belum api-apinya sudah padam tapi tetap memproduksi asap. Nah ini yang sekarang sedang dilakukan pendinginan secara intensif oleh teman-teman,” ujar Raja Juli Antoni dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa, 1 September 2026. 


Menurut data hingga Juli 2026, luas lahan yang terbakar akibat Karhutla tercatat mencapai 202.004 hektar. Fenomena El Nino tahun ini disebut memiliki tingkat kekuatan yang serupa dengan kejadian pada 2015, dan puncaknya diprediksi terjadi pada bulan Agustus hingga September.

"Kalau data dari sampai bulan Juli, Agustus kita belum punya datanya. Teman-teman lihat kalau membandingkan itu yang epoch-epoch ke 2015. Jadi terbakar pada masa itu adalah 600.000 hektar. Ini sampai bulan Juli sebesar 202.004 hektar," jelas Raja Juli. 

Meskipun menunjukkan tren penurunan dari puncaknya pada 29 Agustus yang mencapai 1.118 titik, dua wilayah yakni Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih tercatat memiliki angka titik panas yang cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya. Sementara itu, di Sumatera Selatan, dari hasil pengecekan langsung (ground check), titik api riil (firespot) berhasil ditekan hingga tersisa 11 titik dari semula 37 titik panas yang terdeteksi satelit.

Menteri Kehutanan menegaskan bahwa Pemerintah terus memantau situasi secara real-time melalui sistem SiPongi untuk memastikan penanganan yang cepat dan akurat demi mencegah penyebaran titik api lebih luas.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X