18 December 2025 22:08
Sudah lebih dari tiga pekan berlalu sejak banjir bandang dahsyat melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 26 November lalu. Namun, duka dan kesulitan masih menyelimuti puluhan ribu warga yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda pengungsian, karena kehilangan tempat tinggal dan akses hidup layak.
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Sosial Kabupaten Pidie Jaya, bencana ini memakan korban jiwa sebanyak 29 orang meninggal dunia, sementara dua orang lainnya masih dinyatakan hilang. Secara keseluruhan, sekitar 86.000 jiwa di delapan kecamatan terpaksa mengungsi akibat rumah mereka hancur atau tertimbun lumpur di sepanjang bantaran Sungai Meureudu.
Kondisi di tempat pengungsian, salah satunya di Gedung Serbaguna Tgk Chik Pante Geulima, mulai mengkhawatirkan. Lebih dari 150 kepala keluarga harus berbagi ruang, dengan fasilitas yang sangat minim. Kebutuhan air bersih menjadi masalah paling mendesak yang dihadapi para pengungsi saat ini.
Selain masalah sanitasi, warga juga mulai mencemaskan hilangnya privasi dan kenyamanan untuk beribadah. Apalagi, waktu menjelang bulan suci Ramadhan sudah semakin dekat.
"Kami butuh tempat yang nyaman untuk beribadah. Ada privasi. Tidak mungkin kami terus-menerus di sini, apalagi sebentar lagi mau masuk bulan puasa," ujar Rahmi, salah satu warga pengungsi dengan nada cemas.
| Baca juga: Memprihatinkan, Bupati Aceh Timur Ungkap Harus Terobos Medan Ekstrem Menuju Simpang Jernih |