Di hari pertama tahun 2026, Presiden Prabowo tiba di wilayah Aceh Tamiang. Presiden akan mengecek proses pembangunan dari hunian sementara (huntara).
Ketibaan presiden dihadiri para menteri dan juga kepala daerah. Bupati Aceh Tamiang Armia Fahmi merinci ada lebih dari 8.500 rumah rusak berat, 9.300 lebih rumah rusak sedang, dan lebih dari 15 ribu rumah rusak ringan.
Presiden terus berkoordinasi terus dengan sejumlah kementerian dan juga pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan huntara yang diharapkan dapat selesai dalam tiga bulan.
Untuk menanggulangi kondisi hancurnya rumah warga terdampak yang berada di Aceh Tamiang, Bupati Armia Fahmi mengatakan pemerintah daerah sudah menyiapkan lahan untuk membangun hunian sementara maupun hunian tetap bagi warga yang terdampak.
Huntara dibangun di atas lahan milik Pemerintah Daerah Aceh Tamiang. Pemda Aceh Tamiang juga sempat meminta 14 perusahaan pemegang hak hak guna usaha untuk melepaskan izin mereka agar lahan bisa digunakan sebagai lokasi pembangunan.
"Danantara membuktikan, dalam 8 hari membangun 600 hunian yang menurut saya cukup baik," kata Presiden Prabowo di Aceh Tamiang, Kamis, 1 Januari 2026.
Menurut Presiden, pembangunan tersebut hanya sebagian dari total kebutuhan hunian masyarakat terdampak bencana alam. Presiden meminta pembangunan hunian dipercepat, termasuk perbaikan bangunan yang rusak.
"Kebutuhan rumah untuk 3 provinsi adalah 90 ribu, yang rusak berat. Kemudian, yang rusak ringan dan rusak menengah, bagaimana bantuannya," kata Presiden.
Presiden menegaskan pembangunan hunian untuk warga terdampak adalah bentuk bukti hadirnya negara dalam penanggulangan bencana. Hal itu sesuai dengan prinsip masyarakat Indonesia yang hanya mempercayai bukti.