Hari Raya Iduladha yang identik dengan momen kebersamaan keluarga, jamuan makan, dan tradisi berkurban kini terasa sangat berbeda bagi umat Muslim di Gaza dan Lebanon. Imbas perang dan krisis kemanusiaan yang berlarut-larut, hari raya tahun ini harus dilalui dalam kesunyian, bayang-bayang kelaparan, dan keterbatasan di kamp-kamp pengungsian.
Dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, ribuan warga Palestina tetap mengumandangkan takbir dan melaksanakan Salat Id di Lapangan Al-Saraya, pusat Kota Gaza. Namun, pemandangan kali ini jauh dari kata meriah. Umat Muslim menggelar sajadah di tengah kepungan bangunan yang hancur lebur dan masjid-masjid yang tinggal puing.
Perayaan Iduladha di Gaza tahun ini sangat terbatas seiring dengan gempuran Zionis Israel yang terus berlanjut. Kondisi kehidupan warga semakin memburuk akibat krisis pangan dan melambungnya harga hewan kurban yang tidak lagi terjangkau oleh masyarakat.
Alih-alih menyantap daging kurban, hari-hari para pengungsi justru dihabiskan dengan mengantre berjam-jam membawa wadah kosong di titik-titik distribusi bantuan, sekadar untuk mendapatkan kebutuhan makanan pokok.
"Seperti yang Anda lihat, tidak ada hewan untuk dikurbankan, daging, atau apa pun. Kami tidak mampu membeli barang-barang ini, situasinya sangat sulit bagi semua orang," ungkap Hend Hegazy, salah seorang pengungsi di Gaza.
Kesedihan Pengungsi Lebanon Terpisah dari Keluarga
Nestapa serupa juga dirasakan oleh warga di Lebanon. Konflik bersenjata yang sengit antara Israel dan Hizbullah memaksa umat Muslim Lebanon merayakan Iduladha di sekolah-sekolah negeri dan tenda-tenda yang dialihfungsikan sebagai tempat penampungan darurat.
Tradisi mengunjungi kerabat dan menjamu keluarga besar di rumah kini hanya tinggal kenangan. Lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi dari kota dan desa di Lebanon Selatan serta Timur, memisahkan banyak keluarga pada hari raya ini.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, eskalasi serangan Israel sejak awal perang telah merenggut sedikitnya 3.212 korban jiwa dan menyebabkan lebih dari 9.700 orang terluka. Kondisi ini membuat suasana duka lebih mendominasi alih-alih perayaan.
"Kami mengungsi, dipaksa meninggalkan tanah, rumah, dan mata pencaharian kami. Kenangan kami dihancurkan, dan penjajah menduduki tanah dan rumah kami di daerah Khiyam. Tentu saja, kami tidak merayakan Iduladha," ucap Rabee Khreis, salah seorang pengungsi asal Khiyam, Lebanon.