27 May 2026 21:29
Iduladha yang biasanya identik dengan sukacita dan kebersamaan keluarga justru terasa berbeda bagi anak-anak Palestina di Gaza. Di tengah puing bangunan dan krisis kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan, banyak anak harus bekerja demi membantu keluarganya bertahan hidup.
Seorang anak bernama Mohammad Ashour terlihat berjalan di Jalan Al-Jala, pusat Kota Gaza, sambil berkeliling membawa termos kopi untuk dijual kepada pejalan kaki. Tas kecil di punggungnya menjadi simbol beratnya kehidupan yang harus dipikul di usia muda.
Kenangan indah saat berwisata ke taman, menikmati hidangan restoran, hingga bermain di pesisir pantai kini terasa seperti mimpi yang terkubur. Baginya, suasana perang telah merampas keceriaan hari raya dan mengubahnya menjadi hari biasa yang penuh beban perjuangan.
“Saya menjual kopi untuk menghidupi keluarga saya," kata Mohammad dikutip dari tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu 27 Mei 2026.
Kenangan indah saat berwisata ke taman, menikmati hidangan restoran, hingga bermain di pesisir pantai kini terasa seperti mimpi yang terkubur. Baginya, suasana perang telah merampas keceriaan hari raya dan mengubahnya menjadi hari biasa yang penuh beban perjuangan.
"Dahulu, saat hari raya adalah hari yang penuh sukacita, kami akan pergi keluar, berjalan-jalan dan mengunjungi taman, restoran, dan pantai. Tetapi sekarang, di bawah kondisi perang, hari raya telah menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya,” ujarnya.