Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Ini Kronologinya-Kabar Daerah

Deny Irwanto • 10 August 2026 17:22

Jakarta: Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kembali menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Api yang pertama kali terdeteksi pada awal Agustus 2026 terus meluas hingga mencapai sekitar 520 hektare. Kondisi tersebut membuat seluruh pintu masuk kawasan wisata Bromo ditutup sementara demi keselamatan pengunjung dan mendukung proses pemadaman.

Kebakaran juga membuat tim gabungan harus menghadapi medan yang cukup sulit. Pemadaman dilakukan melalui jalur darat hingga penyiraman dari udara menggunakan helikopter water bombing.
 

 

Api Muncul di Blok Bantengan

Kebakaran bermula pada Senin, 3 Agustus 2026. Titik api pertama kali terdeteksi di Blok Bantengan sekitar pukul 17.00 WIB. Balai Besar TNBTS mengindikasikan kebakaran diduga kuat dipicu kelalaian manusia. Salah satunya berupa sisa bara perapian di jalur tradisional yang ditinggalkan dalam kondisi belum sepenuhnya padam. Kondisi cuaca yang kering dan angin kencang kemudian membuat api dengan cepat merambat ke area lainnya.

Pada 4 Agustus 2026, kobaran api mulai menjalar ke wilayah Probolinggo dan mendekati perbatasan Kabupaten Malang. Perluasan area kebakaran terus terjadi dalam beberapa hari berikutnya. Hingga 7 Agustus, luas area terdampak telah mencapai sekitar 135 hektare. Api juga menjalar ke kawasan savana hingga Lembah Watangan. Kondisi tersebut mendorong Balai Besar TNBTS mengambil langkah untuk menutup seluruh akses menuju kawasan wisata Bromo.

Wisata Bromo Ditutup Total

Penutupan seluruh pintu masuk kawasan wisata Bromo mulai berlaku pada Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keselamatan pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi tim gabungan dalam melakukan penanganan kebakaran. Namun, kobaran api masih terus meluas.

Hingga Minggu malam, 9 Agustus, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 520 hektare. Api menjalar ke sejumlah wilayah di Probolinggo hingga kawasan Penanjakan di Kabupaten Pasuruan. Vegetasi yang terdampak meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, hingga semak belukar.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus melakukan upaya pemadaman di kawasan terdampak. Kondisi medan yang curam menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan. Selain itu, operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan.
 

Karena itu, pemadaman difokuskan melalui jalur darat dan penyiraman dari udara menggunakan helikopter water bombing milik TNI AL dan BNPB. Meski berbagai upaya telah dilakukan, hingga Senin, 10 Agustus 2026, sejumlah titik panas masih terpantau mengeluarkan asap.

Nah Sobat MTVN Lens, kebakaran di kawasan TNBTS menunjukkan bahwa kondisi alam yang kering dan angin kencang dapat membuat api menyebar dengan cepat, terlebih ketika kebakaran diduga berawal dari kelalaian manusia. Penutupan kawasan wisata hingga pengerahan tim gabungan menjadi langkah penanganan untuk mengendalikan api sekaligus menjaga keselamatan. Karena itu, pencegahan dan kepatuhan terhadap aturan di kawasan konservasi menjadi hal penting agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Jangan lupa saksikan MTVN Lens lainnya hanya di Metrotvnews.com.

(Zein Zahiratul Fauziyyah)


Close Ads X
Close Ads X