Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, secara resmi menetapkan status darurat ekonomi nasional merespons gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,4 yang mengguncang negara tersebut. Langkah konstitusional ini diambil guna memangkas birokrasi, sehingga proses pemulihan dan distribusi bantuan ke wilayah terdampak dapat berjalan lebih cepat.
"Mempertimbangkan tingkat keparahan situasi yang sedang dihadapi Kolombia saat ini, tragedi ini memaksa kita mengambil langkah-langkah luar biasa. Dampaknya sangat besar dan membutuhkan ketegasan serta kemauan politik yang kuat dari pemerintah," tegas Abelardo dikutip dari Metro Hari Ini, Metro TV, Kamis 13 Agustus 2026.
Ia menambahkan bahwa alokasi anggaran dan investasi darurat mutlak diperlukan saat ini untuk meringankan penderitaan para korban.
"Pemerintah harus melakukan investasi yang diperlukan di wilayah-wilayah terdampak untuk membangun kembali rumah-rumah warga, serta memberikan bantuan penuh kepada begitu banyak warga Kolombia yang saat ini tengah menderita," jelasnya.
Evakuasi Dramatis Nenek 94 Tahun
Berdasarkan pemutakhiran data terbaru dari pemerintah setempat, bencana gempa bumi ini telah mengakibatkan sedikitnya 265 orang
meninggal dunia dan ribuan lainnya luka-luka. Selain itu, sekitar 500 orang dilaporkan masih hilang.
Guncangan gempa dirasakan meluas hingga ke 368 wilayah administratif. Tingkat kerusakan tercatat sangat parah, dengan lebih dari 20.000 rumah warga hancur dan 64 bangunan roboh rata dengan tanah.
Di tengah krisis dan duka mendalam, sebuah keajaiban evakuasi terjadi di Kota Pereira yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Tim tanggap darurat gabungan berhasil melakukan evakuasi dramatis terhadap Maria, seorang perempuan lanjut usia berusia 94 tahun.
Maria berhasil ditarik keluar dari balik puing-puing bangunan dalam kondisi hidup setelah terjebak dan bertahan selama lebih dari 48 jam. Hingga kini, petugas masih terus menyisir lokasi untuk mencari korban-korban lain yang diyakini masih tertimbun reruntuhan material.