6 November 2026 09:58
Jakarta: Aeshnina Azzahra Aqilani atau akrab disapa Nina merupakan aktivis lingkungan asal Jawa Timur yang konsisten menyuarakan persoalan sampah plastik. Kepeduliannya terhadap lingkungan tumbuh sejak usia dini hingga membawanya menyampaikan isu pencemaran plastik di berbagai forum internasional.
Nina mengaku kepeduliannya terhadap lingkungan berangkat dari kesadaran bahwa manusia tidak bisa terpisah dari alam. Lingkungan menyediakan berbagai kebutuhan dasar, mulai dari air, makanan, hingga udara untuk kehidupan.
"Karena lingkungan ini kan tempat tinggal kita. Dan juga kita akan selamanya merasa saling bergantungan dengan alam, dengan lingkungan kita. Kita enggak akan bisa hidup tanpa alam," ujar Nina dalam tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Jumat 6 November 2026.
Menurut Nina, pencemaran sampah plastik bukan lagi persoalan baru. Isu tersebut telah menjadi perhatian global hingga mendorong berbagai organisasi internasional menggelar forum dan negosiasi untuk membahas perjanjian plastik atau Global Plastics Treaty.
Ia menilai persoalan plastik semakin serius karena masyarakat semakin sulit mendapatkan hak dasar berupa air minum dan udara bersih tanpa paparan mikroplastik.
"Semakin saya besar pun saya semakin menyadari bahwa semakin susah kita sebagai anak-anak muda ini mengakses hak dasar kita, seperti air minum yang bersih tanpa mikroplastik, udara yang bersih," katanya.
Nina juga menyoroti paparan mikroplastik yang menurutnya telah ditemukan di berbagai bagian tubuh manusia, termasuk paru-paru, otak, hingga plasenta. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan baginya untuk terus menyuarakan bahaya penggunaan plastik sekali pakai.
Kepedulian Nina terhadap lingkungan tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya yang merupakan aktivis lingkungan dan biolog. Sejak kecil, Nina terbiasa diajak terlibat langsung dalam kegiatan lingkungan, mulai dari menyusuri sungai, mengunjungi tempat pembuangan sampah, hingga mengikuti demonstrasi.
"Saya rasa sering kali diajarkan learning by doing. Jadi belajar langsung ke lapangan, langsung turun ke sungai, langsung turun ke tempat pembuangan sampah. Bahkan juga ikut demo," tuturnya.
Menurut Nina, orang tuanya juga memberikan contoh langsung dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Dari kebiasaan tersebut, ia belajar bahwa selalu ada alternatif untuk menggantikan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
"Mereka jadi role model saya, memberikan contoh kayak ternyata bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, ternyata akan selalu ada alternatif pengganti plastik," ungkap Nina.
Saat duduk di bangku sekolah dasar, Nina bersama teman-temannya pernah menulis surat kepada Bupati Gresik untuk menyampaikan keluhan mengenai pencemaran lingkungan. Gerakan tersebut diinisiasi oleh guru di SD Muhammadiyah 1 Wringinanom.
Pengalaman itu membuat Nina menyadari bahwa menyampaikan aspirasi melalui tulisan dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong perhatian pemerintah terhadap persoalan lingkungan.
"Dengan menulis surat, dengan kata-kata, dengan pulpen kita, apalagi kalau ditulis beramai-ramai, bersamaan, itu bisa didengarkan oleh pemerintah, bisa memberikan dampak," jelasnya.
Meski tidak langsung mendapat penanganan, Nina dan teman-temannya sempat diundang ke kantor pemerintah daerah untuk bertemu dengan wakil bupati. Bagi Nina yang saat itu masih kelas tiga atau empat SD, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang membekas.
"Tapi kalau untuk penanganan memang membutuhkan waktu yang lama. Karena memang kenyataannya lingkungan kita ini belum menjadi prioritas untuk pemerintah kita. Masalah lingkungan ini di nomor sekiankan," katanya.
Ia berharap persoalan lingkungan mendapat perhatian lebih besar karena kondisi lingkungan berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
"Padahal lingkungan kita ini seharusnya menjadi yang utama dulu. Kalau lingkungannya sudah beres pasti masalah-masalah selanjutnya akan lebih mudah diatasi," lanjut Nina.
Langkah Nina menyuarakan persoalan lingkungan terus berlanjut ketika ia duduk di kelas satu SMP. Pada 2019, ia menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Aksi tersebut juga disertai demonstrasi di depan Konsulat Amerika Serikat di Surabaya.
Nina mengaku tidak memiliki ekspektasi bahwa aksinya akan mendapat perhatian luas. Namun, kegiatan tersebut justru diliput sejumlah media nasional dan internasional.
"Sangat kaget sekali setelah melakukan aksi, menuliskan surat ke Donald Trump dan juga sambil demonstrasi di depan Konsulat Amerika di Surabaya, itu banyak sekali media yang meng-interview setelah itu," ujarnya.
Pemberitaan mengenai aktivitas Nina kemudian sampai kepada Plastic Soup Foundation, organisasi asal Belanda yang bergerak dalam isu pencemaran plastik. Nina mendapat undangan untuk menjadi pembicara dalam Plastic Health Summit 2021 di Amsterdam.
Dalam forum tersebut, Nina menyampaikan persoalan sampah impor. Ia juga bertemu dengan sejumlah ilmuwan yang meneliti mikroplastik dalam darah dan plasenta manusia.
"Waktu itu temanya tentang Plastic Health Summit. Jadi mengundang banyak sekali ilmuwan yang meneliti tentang mikroplastik di dalam darah, di dalam plasenta, itu saya ketemu langsung," kata Nina.
Setelah menghadiri Plastic Health Summit, Nina kembali mengikuti sejumlah forum internasional, termasuk di Kanada dan Glasgow, Skotlandia. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanannya memperluas jangkauan edukasi mengenai persoalan sampah plastik.
Nina berharap semakin banyak generasi muda berani menyampaikan aspirasi dan terlibat dalam gerakan menjaga lingkungan. Baginya, suara anak muda memiliki arti dan dapat menjadi dorongan untuk perubahan.
"Jadi suara kita jangan dianggap remeh, suara kita jangan dianggap kecil, enggak berefek. Suara kita berdampak, kok. Suara kita besar kalau kita terus mau dan pasti akan diberi jalan, pasti akan terus mencari jalan," pungkasnya.