13 October 2026 17:00
Eskalasi bentrokan bersenjata antara kelompok Houthi dan Arab Saudi yang memuncak pada Oktober 2026 tidak dapat dilepaskan dari akar konflik domestik panjang di Yaman yang kemudian bertransformasi menjadi krisis geopolitik regional.
Akar Sejarah dan Kronologi Konflik
Perkembangan Eskalasi Terkini dan Dampak Serangan
Pada September 2026, Houthi memperluas jangkauan kendali di sepanjang pesisir Laut Merah dan kawasan strategis dekat Selat Bab el-Mandeb. Pemerintah Yaman di bawah kepemimpinan Rashad Al-Alimi yang didukung Arab Saudi merespons dengan mengumumkan operasi militer untuk merebut kembali wilayah-wilayah strategis tersebut.
Situasi kian memburuk setelah serangkaian serangan rudal dan drone menyasar fasilitas bandara di Riyadh pada 8–10 Oktober 2026. Rangkaian serangan tersebut mengakibatkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka, serta mengganggu operasional penerbangan secara signifikan.
Dampak Geopolitik dan Krisis Kemanusiaan di Yaman
Di sisi lain, konflik berkepanjangan ini memperparah krisis kemanusiaan di dalam negeri Yaman. Data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Maret 2026 mencatat:
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan akan terus melancarkan aksi balasan secara eskalatif ke wilayah Arab Saudi.
"Angkatan bersenjata Yaman akan melanjutkan operasinya secara eskalatif menuju ke dalam wilayah Saudi dan kami terus mempertegas persamaan pengepungan dengan pengepungan dan eskalasi dengan eskalasi, serta menargetkan konsentrasi pasukan Saudi sampai agresi dihentikan dan pengepungan terhadap rakyat kami yang tercinta diakhiri,” ujar Yahya Saree dikutip dalam tayangan Fact Check Metro Siang Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.
Sebaliknya, R4 Group (kelompok negara Arab Saudi, Mesir, Pakistan, dan Turki) mengeluarkan pernyataan sikap bersama yang mengecam keras serangan Houthi terhadap warga sipil dan fasilitas infrastruktur, serta memberikan dukungan penuh bagi langkah-langkah keamanan domestik Arab Saudi.