Konflik Houthi dan Arab Saudi

13 October 2026 17:00

Eskalasi bentrokan bersenjata antara kelompok Houthi dan Arab Saudi yang memuncak pada Oktober 2026 tidak dapat dilepaskan dari akar konflik domestik panjang di Yaman yang kemudian bertransformasi menjadi krisis geopolitik regional.

Akar Sejarah dan Kronologi Konflik

  • Awal Kemunculan (1990-an–2004): Gerakan Houthi berakar dari kelompok Zaidiyah Syiah di Yaman Utara yang menentang kebijakan pemerintah karena merasa mengalami marginalisasi. Bentrokan bersenjata pertama meletus pada 2004 di bawah pimpinan Hussein Badreddin Al-Houthi sebagai awal konflik domestik Yaman.
  • Gelombang Arab Spring (2011): Gelombang demonstrasi besar mendesak Presiden Ali Abdullah Saleh mundur. Kekuasaan kemudian diserahkan kepada wakilnya, Abdrabbuh Mansur Hadi.
  • Pengambilalihan Sana'a (2014): Memanfaatkan ketidakpuasan terhadap pemerintah transisi, Houthi melancarkan ekspansi militer hingga menguasai ibu kota Yaman, Sana'a.
  • Intervensi Militer Arab Saudi (2015): Saat Presiden Hadi kehilangan kendali politik dan Houthi merangsek ke wilayah selatan, Arab Saudi menilai pergerakan tersebut sebagai ancaman langsung di perbatasan selatannya. Arab Saudi kemudian melancarkan operasi dan intervensi militer untuk membela pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
  • Gencatan Senjata dan Eskalasi Ulang (2022–2026): Upaya mediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sempat melahirkan gencatan senjata pada 2022. Namun, ketegangan kembali memanas pada pertengahan 2026.

Perkembangan Eskalasi Terkini dan Dampak Serangan

Pada September 2026, Houthi memperluas jangkauan kendali di sepanjang pesisir Laut Merah dan kawasan strategis dekat Selat Bab el-Mandeb. Pemerintah Yaman di bawah kepemimpinan Rashad Al-Alimi yang didukung Arab Saudi merespons dengan mengumumkan operasi militer untuk merebut kembali wilayah-wilayah strategis tersebut.

Situasi kian memburuk setelah serangkaian serangan rudal dan drone menyasar fasilitas bandara di Riyadh pada 8–10 Oktober 2026. Rangkaian serangan tersebut mengakibatkan sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 orang mengalami luka-luka, serta mengganggu operasional penerbangan secara signifikan.

 


Dampak Geopolitik dan Krisis Kemanusiaan di Yaman

  • Konflik ini menimbulkan potensi dampak geopolitik dan ekonomi yang meluas:
  • Dampak Langsung: Dirasakan oleh Arab Saudi dan Yaman.
  • Dampak Jalur Maritim: Mesir serta negara-negara di sekitar Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah menghadapi risiko gangguan aktivitas maritim.
  • Dampak Rantai Pasok Global: Amerika Serikat, Inggris, Eropa, dan negara-negara Asia berpotensi terdampak gangguan keamanan pelayaran jalur perdagangan internasional untuk rantai pasok dan pasokan energi.

Di sisi lain, konflik berkepanjangan ini memperparah krisis kemanusiaan di dalam negeri Yaman. Data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Maret 2026 mencatat:

  • Lebih dari 22 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.
  • Sekitar 18,3 juta orang mengalami kerawanan pangan.
  • Lebih dari 2,2 juta anak menderita malnutrisi akut.
  • Jumlah pengungsi domestik mencapai 5,2 juta jiwa.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan akan terus melancarkan aksi balasan secara eskalatif ke wilayah Arab Saudi.

"Angkatan bersenjata Yaman akan melanjutkan operasinya secara eskalatif menuju ke dalam wilayah Saudi dan kami terus mempertegas persamaan pengepungan dengan pengepungan dan eskalasi dengan eskalasi, serta menargetkan konsentrasi pasukan Saudi sampai agresi dihentikan dan pengepungan terhadap rakyat kami yang tercinta diakhiri,” ujar Yahya Saree dikutip dalam tayangan Fact Check Metro Siang Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026.

Sebaliknya, R4 Group (kelompok negara Arab Saudi, Mesir, Pakistan, dan Turki) mengeluarkan pernyataan sikap bersama yang mengecam keras serangan Houthi terhadap warga sipil dan fasilitas infrastruktur, serta memberikan dukungan penuh bagi langkah-langkah keamanan domestik Arab Saudi.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X