Begini Modus Riset 'Bodong' Oknum WNI di Konferensi ISPPD

4 June 2026 00:18

Peneliti kedokteran klinis dari Universitas Oxford, Wa Ode Dwi Daningrat, membeberkan rentetan kejanggalan dugaan riset fiktif oleh sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) dalam konferensi medis internasional International Society for Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) ke-14.

Hadir sebagai narasumber dalam program Hotroom Metro TV, Wa Ode menjelaskan kecurigaan awal bermula saat ia menelusuri daftar peserta asal Indonesia di platform konferensi tersebut.

"Berawal dari platform ISPPD yang kami search Indonesia di situ, kemudian ada empat nama yang menarik perhatian. Karena empat nama ini berafiliasi atau terkoneksi dengan empat sampai lima abstrak sebagai first author yang mana ini sebenarnya tidak lazim tapi sangat mengagumkan," ungkap Wa Ode.

Kejanggalan semakin menguat ketika diketahui keempat peserta berlatar belakang pendidikan matematika tersebut mempresentasikan riset kedokteran tanpa melibatkan satupun ahli medis maupun peneliti lokal di wilayah yang mereka klaim sebagai lokasi penelitian.

"Yang membuat kami menganggap ini ada kejanggalan, tidak ada sama sekali kolaborator medis dan juga tidak ada sama sekali kolaborator lokal di lokasi-lokasi penelitian yang mereka sampaikan di poster-poster dan presentasinya, Pak Hotman," tegasnya.

Terkait dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI), Wa Ode menilai hal tersebut memang sulit dibuktikan secara hukum. Namun, ia meyakini adanya indikasi kuat fabrikasi data yang bertentangan dengan fakta ilmiah medis.

"Ada ketidaksinkronan antara metode dan juga hasil penelitiannya. Kemudian ada data-data yang terlalu sempurna. Makanya pada saat postingan sosial media juga saya sampaikan fabrikasi data dan atau berdasarkan hasil AI," jelas Wa Ode.

Lebih mengejutkan lagi, Wa Ode dan rekan-rekannya menyaksikan langsung para oknum WNI itu melakukan manipulasi identitas saat berada di lokasi konferensi di Eropa. "Ini sesuai apa yang kami saksikan di ISPPD langsung, ya, termasuk penggantian name tag dan juga pengenalan diri sebagai orang yang berbeda-beda," kata Wa Ode.

Saksikan Selengkapnya!

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi AI, pengawasan yang kuat dinilai penting agar inovasi tidak disalahgunakan dalam dunia akademik. Bagaimana seharusnya pemerintah dan institusi akademik memperkuat pengawasan terhadap penggunaan AI dalam penelitian?

Saksikan investigasi dan perdebatan selengkapnya dalam program Hotroom episode "Riset Fiktif Coreng Integritas Peneliti RI" hanya di Metro TV.

(Sofia Zakiah)