Jakarta: Pernah merasa deg-degan sebelum wawancara kerja, overthinking sebelum bertemu orang baru, atau khawatir menghadapi sesuatu yang belum pasti? Rasa cemas seperti ini sebenarnya merupakan respons alami tubuh terhadap stres.
Namun, kecemasan tidak selalu berhenti setelah situasi yang membuat khawatir berlalu. Jika rasa cemas berlangsung terus-menerus, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut dapat mengarah pada gangguan kecemasan.
Cara Membedakan Rasa Cemas Biasa dan Gangguan Kecemasan
Lantas, bagaimana membedakan rasa
cemas biasa dengan gangguan kecemasan? Berikut beberapa hal yang bisa diperhatikan seperti dikutip dari laman
Halodoc.
1. Perhatikan Pemicu Kecemasan
Rasa cemas biasanya muncul sebagai respons terhadap situasi tertentu. Misalnya, seseorang merasa gugup sebelum wawancara kerja atau presentasi. Gejala seperti jantung berdebar atau rasa tidak nyaman di perut dapat muncul, tetapi biasanya berkurang setelah situasi tersebut selesai. Sementara itu, pada gangguan kecemasan, rasa khawatir dapat muncul secara berlebihan atau tetap bertahan meskipun pemicu awal sudah tidak ada.
2. Bandingkan dengan Situasinya
Kecemasan yang normal umumnya masih sebanding dengan situasi yang dihadapi. Contohnya, seseorang yang datang sendirian ke pesta mungkin merasa canggung karena tidak mengenal siapa pun. Setelah menemukan teman untuk berbicara, rasa tidak nyaman tersebut dapat berkurang.
Pada gangguan kecemasan, respons yang muncul dapat jauh lebih besar dibandingkan situasinya. Seseorang dapat merasa sangat takut, sulit berbicara, mengalami jantung berdebar atau pusing, hingga memilih menghindari situasi tersebut.
3. Lihat Dampaknya pada Aktivitas Sehari-hari
Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah dampak
kecemasan terhadap kehidupan sehari-hari. Misalnya, kekhawatiran terhadap kebersihan bayi dapat membuat seorang ibu mencuci tangan sebelum merawat anak. Namun, jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali hingga menyebabkan tangan menjadi sakit, menghabiskan banyak waktu, bahkan membuatnya lupa memberi makan bayi, kecemasan tersebut sudah mengganggu aktivitas.
Gangguan kecemasan juga dapat membuat seseorang menghindari pekerjaan, pendidikan, kegiatan sosial, atau aktivitas lain yang sebelumnya dapat dilakukan secara normal.
4. Perhatikan Berapa Lama Kecemasan Berlangsung
Rasa
cemas biasa cenderung mereda ketika situasi yang menjadi sumber stres sudah berakhir. Sementara itu, gangguan kecemasan dapat berlangsung lebih lama dan terus berulang. Pada generalized anxiety disorder (GAD) atau gangguan kecemasan menyeluruh, misalnya, kekhawatiran yang berlebihan dapat berlangsung setidaknya selama enam bulan.
Kondisi ini juga dapat disertai gejala seperti sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, mudah lelah, mudah tersinggung, ketegangan otot, hingga gangguan pencernaan.
Kapan Perlu Mencari Bantuan?
Merasa cemas sesekali merupakan hal yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kecemasan terasa berlebihan, sulit dikendalikan, berlangsung terus-menerus, atau mulai mengganggu kualitas hidup.
Gangguan kecemasan dapat ditangani melalui berbagai pendekatan, termasuk psikoterapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT), pengobatan sesuai kondisi, kelompok dukungan, dan strategi pengelolaan stres.
Jika kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau membuat seseorang sulit menjalani kehidupan seperti biasanya, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.
Nah, membedakan rasa cemas biasa dengan gangguan kecemasan bukan sekadar melihat seberapa sering seseorang merasa cemas. Pemicu, intensitas, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari juga perlu diperhatikan. Jika kecemasan mulai mengganggu aktivitas, mencari bantuan dari tenaga kesehatan dapat menjadi langkah yang tepat.
Jangan lupa saksikan
MTVN Lens lainnya hanya di
Metrotvnews.com.
(Titik Nurmalasari)