Jakarta: Kita tahu negara kita adalah negara maritim. Lebih dari 70% wilayah kita adalah air, dan kita memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Logikanya sebenarnya harusnya air adalah sahabat. Tapi, ternyata ada sebuah fakta mengejutkan yang justru menunjukkan bahwa realitas yang berbeda.
Kenapa berbeda? Karena ternyata tidak semua masyarakat Indonesia atau hanya sedikit masyarakat Indonesia yang dalam tanda kutip ramah air atau lebih sederhana bisa berenang.
Luas wilayah laut Indonesia
Bagaimana sebenarnya fakta di balik luasnya laut Indonesia dengan daya kemampuan masyarakat untuk bisa berenang? Luas Indonesia sendiri kita tahu ada 6,4 juta kilometer persegi, lebih dari 70?alah wilayah perairan.
Kita juga punya garis pantai yang panjang sekali sampai 108 kilometer, tapi ternyata hanya 30% warga Indonesia yang bisa berenang. Analoginya 7 dari 10 orang tidak bisa menyelamatkan diri. Banyak sekali misalnya korban-korban tenggelam atau korban-korban yang misalnya terseret ombak atau apapun yang terkait dengan kecelakaan di air membuat korban tidak bisa menyelamatkan diri.
Satu faktor mungkin jenis bencananya, di sisi lain ada yang tidak bisa berenang dan tidak bisa menyelamatkan diri jika terjadi keadaan darurat di air.
Mengapa bisa terjadi?
Jadi kalau di Indonesia tidak ada kurikulum khusus berenang di sekolah. Kemudian kita juga minim fasilitas. Mungkin ada beberapa sekolah yang sudah punya fasilitas sekolah berenang. Tapi kalau kita lihat secara keseluruhan belum semuanya merata. Mungkin sebagian kecil saja.
Kalau kita bandingkan dengan Inggris misalnya. Siswa SD di Inggris wajib bisa berenang 25 meter. Beda lagi di Australia yang bahkan lebih advance lagi. Mereka wajib mengantongi water safety certificate di usia 11 tahun. Di Jepang beda lagi dan datanya lebih mengejutkan lagi. Lebih dari 80 persen sekolah dasar punya fasilitas kolam renang.
Sementara di Indonesia sendiri materi olahraga air masih bersifat situasional. Karena ada beberapa faktor. Salah satunya faktor ekonomi yang juga jadi tembok pembatas.
Sementara di wilayah urban maupun sub-urban. Berenang juga belum dianggap sebagai survival skill, melainkan masih rekreasi yang mahal.
Persentase kematian anak akibat tenggelam
Persentasi kematian anak akibat tenggelam juga lumayan mencengangkan. 4,3 persen korban berusia 1-4 tahun, 6,8 persen berusia 5-14 tahun. Kita sudah sering melihat misalnya ada rekreasi di laut atau di pantai, ada saja kejadian anak tenggelam. Orang dewasa yang tenggelam pun juga ada. Itu bukan semata-mata karena faktor alamnya saja, tapi juga karena survival skill-nya juga sangat minim untuk kita miliki.
Sumber: Redaksi Metro TV