Usung Konsep Placemaking, MRT Jakarta Ubah Kawasan Transit Jadi Ruang Sosial Inklusif

10 September 2026 10:53

MRT Jakarta mengusung konsep placemaking, yaitu mengubah kawasan transit menjadi ruang sosial yang inklusif dan memiliki daya tarik bagi masyarakat. Melalui konsep ini, kawasan transit tidak hanya menjadi tempat mobilitas dan perpindahan penumpang, tetapi juga berkembang menjadi destinasi yang memiliki identitas, aktivitas, serta keterikatan dengan masyarakat di sekitarnya.

Misalnya, stasiun MRT yang dekat dengan kawasan Blok M. Kawasan tersebut identik dengan tempat berkumpulnya anak-anak skena, sehingga akan mudah untuk menggandeng komunitas anak-anak skena di sana. 

MRT Jakarta berkomitmen untuk mengembangkan setiap kawasan sesuai dengan karakteristik wilayah atau potensi dari masing-masing wilayah tersebut. Dia memberi contoh stasiun yang dekat dengan kawasan Blok M. 

"Kayak Blok M itu kalau kita cari kan banyaknya komunitas anak-anak muda yang gaul gitu, culture yang skena itu enggak susah. Pasti tuh udah banyak tuh komunitasnya. Nah kalo Kota Tua sebenarnya sudah punya identitasnya, yaitu seni ya, di sana kan art banget. Nanti kemungkinan temanya art heritage, mungkin orang-orang yang di sana suka history gitu, terus juga orang-orang yang suka seni, suka film gitu nanti dengan sendirinya tuh akan berkumpul di sana," ujar Head of Business Planning & Expantion MRT Jakarta, Samuel Pradipta Pranomo, dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia pada Kamis, 10 September 2026. 

Samuel mengungkapkan komunitas menjadi salah satu elemen penting dalam pengembangan placemaking.  Ketika identitas sebuah kawasan terbentuk dengan kuat, masyarakat dan komunitas dengan minat yang serupa akan hadir dan beraktivitas secara alami di kawasan tersebut. 

Meski demikian, Samuel juga menyampaikan jika tidak semua kawasan memiliki identitas yang kuat sejak awal. Samuel menegaskan untuk kawasan yang masih baru berkembang, MRT Jakarta akan melakukan riset terhadap karakteristik masyarakat setempat sebelum menentukan konsep placemaking yang akan dikembangkan.

"Nah kalau yang benar-benar belum ada kawasan yang kawasan baru terbangun gitu, nanti kami biasanya akan ngelihat karakteristik dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya dulu. Jadi kalau untuk kawasan yang identitas awalnya belum ada, kami akan melihat demografi, psikografi dari masyarakat sekitar, needs-nya mereka apa, itu akan di-develop. Jadi sebetulnya placemaking itu bisa dibuat dari nol atau kita nyebutnya demand-nya malah kita yang ciptakan gitu ya," tegasnya. 

(Lutfia Azzahra)

(Gervin Nathaniel Purba)


Close Ads X
Close Ads X