18 August 2026 18:27
Pemerintah Tiongkok menyatakan duka cita mendalam dan kesiapan untuk memberikan bantuan bagi warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Lin Jian, menyampaikan bahwa Beijing merasa prihatin atas bencana tersebut. Selain menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal, pihaknya juga menyatakan simpati kepada warga yang terdampak.
"Tiongkok bersedia memberikan bantuan secara aktif sesuai dengan kebutuhan Indonesia," ujar Lin Jian dalam tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 18 Agustus 2026.
Gempa tersebut dilaporkan telah mengakibatkan 68 orang meninggal dunia, merusak ribuan bangunan, dan memaksa warga untuk mengungsi. Pemerintah Tiongkok kini menunggu koordinasi mengenai kebutuhan spesifik dari pihak Indonesia untuk segera menyalurkan dukungan logistik maupun bantuan lainnya.
Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan awal bermagnitudo 7,0 dengan parameter pemutakhiran menjadi bermagnitudo 7,7 terjadi pada pukul 05.58 WITA . Episenter gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Pusat gempa bumi tektonik itu terjadi di wilayah laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat usai terjadi gempa tektonik tersebut. Peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 08.30 Wita setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.
Hasil observasi tinggi muka laut mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah. Ketinggian tertinggi yang tercatat dalam laporan BMKG mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, pada pukul 06.27 Wita. Kenaikan muka air laut juga tercatat di Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, serta sejumlah wilayah lainnya.