Kabut Asap Selimuti Banjarbaru, Operasi Modifikasi Cuaca Dimasifkan

22 October 2026 22:36

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kalimantan Selatan memicu kabut asap tebal dan memperburuk kualitas udara di Kota Banjarbaru. Indeks Kualitas Udara (IKU) di Banjarbaru pada malam hari tercatat berada pada angka 129, membaik dibandingkan kondisi pagi hingga siang hari yang sempat berada dalam kategori sangat tidak sehat.

"Tadi pagi pukul 10.00 hingga pukul 14.00 siang, angka kualitas udara di Banjarbaru sempat mencapai 193, bahkan hampir menyentuh angka 200, di mana menjadi kategori kualitas udara sangat tidak sehat," ujar jurnalis Metro TV, Hanif Musyaffa dalam tayangan Top News Metro TV, Kamis, 22 Oktober 2026.

Guna menekan dampak karhutla, Kota Banjarbaru ditetapkan sebagai pusat pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk seluruh wilayah Kalimantan. Lokasi ini dipilih karena visibilitas udaranya paling memungkinkan untuk aktivitas penerbangan militer maupun sipil dari Landasan Udara Syamsudin Noor.

Operasi modifikasi cuaca dalam sepekan terakhir dilakukan secara masif menggunakan dua metode utama, yaitu pengaplikasian dry ice (es kering) dan penyebaran garam.

"Fungsi dari metode dry ice adalah memecah lapisan inversi yang menahan asap dan kabut akibat karhutla, lalu didorong dengan metode tabur garam yang fungsinya mengikat dan membentuk awan agar potensi hujan meningkat," jelas Hanif.
 


Selain Kalimantan Selatan, inti dari pelaksanaan modifikasi cuaca juga difokuskan ke wilayah terdampak lain yang menjadi perhatian nasional, seperti kawasan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan.

Meski operasi modifikasi cuaca telah berlangsung selama satu minggu, hingga saat ini hujan belum juga turun di wilayah tersebut.

"Dari pengalaman kami berada di Kalimantan Selatan sendiri, hingga saat ini masih belum terlihat ada tanda-tanda turunnya hujan ataupun dampak dari operasi modifikasi cuaca sendiri," ungkap Hanif.

(Firny Firlandini Budi)


Close Ads X
Close Ads X