Ini Pesan Ustaz Dasad Latif untuk Kapolri Baru

3 October 2026 11:32

Jakarta: Pendakwah kondang Ustaz Dasad Latif memberikan pesan dan wejangan kepada pimpinan tertinggi Korps Bhayangkara. Ia mengingatkan Kapolri agar meluruskan niat dalam memimpin serta berani membersihkan internal Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dari praktik sogok-menyogok promosi jabatan hingga menghapus tradisi 'gerbong' kelompok tertentu.

Dasad menekankan bahwa niat menjadi fondasi utama seorang pemimpin. Jika jabatan hanya dikejar demi popularitas dan materi duniawi, hal itu tidak akan bernilai kemuliaan di hadapan Tuhan.

"Pertama, luruskan niat. Kalau niat Bapak cari popularitas, niat Bapak hanya sekadar dunia, maka Allah pasti kasih dunia itu. Tapi, percayalah, dia tidak ada kemuliaan di sisi Allah. Tapi jika niat Bapak ingin berfastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam mengambil kebaikan, maka Allah pasti menunjukkan jalan keluar," kata Ustaz Dasad Latif.

Das'ad lantas menyinggung kepemimpinan sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab, yang bergelar Al-Faruq karena ketegasannya memisahkan perkara hak dan batil. Ia mengutip kekhawatiran terbesar Umar semasa menjadi pemimpin (Amirul Mukminin), yakni pertanggungjawaban moral atas integritas pejabat bawahan yang ditunjuknya.

"Umar bin Khattab pernah berkata, insyaallah, saya mampu menjalankan tugas dengan penuh amanah tanggung jawab. Yang saya khawatirkan adalah tanggung jawab saya terhadap orang yang saya tunjuk menjalankan tugasnya," tuturnya.

Menurut Dasad, analogi tersebut sangat relevan bagi Kapolri saat ini. Kesalahan bawahan di lapangan—seperti Kapolda maupun Kapolres—juga menjadi bagian dari beban pertanggungjawaban pimpinan di hadapan hukum dan agama.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan prinsip pertanggungjawaban persekutuan pidana (juncto) maupun kaidah hukum Islam.

"Dan dalam Islam, kesalahan menunjuk anak buah menjalankan tugas, itu bagian daripada tanggung jawab juga pimpinan. Dalam Islam kita kenal, asy-syariiku fis-syarri saariq, bersekutu dengan jahat, jahat pula hukumnya. Mungkin kalau dalam hukum pidana, juncto, ya ikut serta mungkin," jelas Dasad. Karena itu, Dasad mewanti-wanti Kapolri agar  berhati-hati memberikan tongkat komando. Ia secara gamblang menyoroti isu dugaan pelicin dalam proses seleksi sekolah kedinasan maupun mutasi jabatan di Korps Bhayangkara yang menurutnya sulit dibuktikan namun nyata dirasakan dampaknya.

"Sudah saatnya polisi memilih anggotanya, bukan lagi berdasarkan sogokan. Ini sogok untuk dapat sekolah, dapat jabatan, seperti bunyi kentut. Ada efeknya, tapi susah membuktikan. Begitu juga ini, mau setuju atau tidak, dalam dunia ini, mau sekolah, penempatan jabatan, selalu ada pelicin," tegasnya.

Ia mendesak agar momentum kepemimpinan saat ini dimanfaatkan untuk menghapus tradisi 'gerbong' atau kelompok pertemanan tertentu dalam penempatan jabatan strategis demi mewujudkan institusi Polri yang profesional dan presisi.

"Inilah saatnya Bapak Jenderal, Bapak Kapolri, menunjukkan niat baik membersihkan institusi Polri dari kegiatan-kegiatan seperti ini. Sudah saatnya istilah gerbong sudah disingkirkan di Kepolisian Republik Indonesia," tambah Dasad. Mengakhiri pesannya, dai asal Makassar yang kerap mengisi ceramah di berbagai kesatuan kepolisian dari Sabang sampai Merauke ini meyakini masih ada banyak personel Korps Bhayangkara yang berintegritas tinggi. Ia berharap anggota-anggota yang jujur dan cerdas tersebut diberi kesempatan memegang tongkat kepemimpinan.

"Saya melihat, banyak sekali anggota Polri yang sangat baik, tinggal yang baik-baik ini, yang jujur-jujur ini, yang cerdas-cerdas ini, diberikan tanggung jawab," pungkasnya.

(Wijokongko)


Close Ads X
Close Ads X