13 October 2026 13:52
Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Memasuki bulan ketiga kepungan asap tanpa kepastian kapan akan berakhir, warga setempat mulai merasa putus asa dan memilih pasrah beraktivitas seperti biasa di luar rumah.
Dikutip dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Selasa, 13 Oktober 2026, status kualitas udara secara resmi berada dalam kategori berbahaya untuk dihirup, durasi paparan yang sudah berlangsung lebih dari tiga bulan membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan. Demi melanjutkan roda kehidupan, warga terpaksa memaksakan diri beraktivitas di luar ruangan meskipun risiko gangguan kesehatan mengintai.
Dampak nekatnya beraktivitas di tengah udara beracun tersebut tecermin dari melonjaknya angka penderita gangguan pernapasan. Selama hampir tiga bulan terakhir, akumulasi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) di Palangka Raya telah menembus lebih dari 11 ribu kasus.
Keresahan warga makin membuncah lantaran kobaran karhutla yang telah melalap 14 hektare hektare lahan di Palangka Raya kian mendekati kawasan komplek perumahan. Kepulan asap tebal membubung hanya beberapa meter dari permukiman warga.
Di sisi lain, upaya pemadaman oleh tim gabungan Pemprov, Pemkot, serta TNI dan Polri kini hanya difokuskan untuk menjaga batas wilayah agar api tidak makin merembet. Petugas di lapangan mengakui sudah tidak sanggup memadamkan titik api yang berada jauh di dalam hutan karena keterbatasan akses jalan. Dalam situasi sulit ini, turunnya hujan menjadi satu-satunya harapan tersisa bagi masyarakat untuk mengakhiri krisis asap di Palangka Raya.