17 August 2023 13:53
Museum Perumusan Naskah Proklamasi menjadi salah satu saksi bisu sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Gedung dengan luas tanah 3.914 meter persegi dan luas bangunan 1.138 meter persegi ini menyimpan sejarah panjang perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945.
Pada awalnya, bangunan ini didirikan pada 1927 dan difungsikan sebagai kediaman resmi Konsulat Kerajaan Inggris. Bangunan ini dirancang oleh Arsitek Johan Frederik Lodewijk Blankenberg dengan gaya arsitektur art deco ala Eropa.
Saat terjadi perang Pafisik, Jepak mulai masuk dan mengambil alih Indonesia. Pada masa itulah gedung ini dijadikan tempat tinggal oleh Laksamana Tadashi Maeda, dan dijadikan sebuah museum.
Museum Perumusan Naskah Proklamasi memiliki empat ruangan. Ruangan pertama merupakan ruang yang menjadi tempat peristiwa bersejarah pertama dalam persiapan naskah Proklamasi Indonesia.
Ruangan tersebut dijadikan sebagai ruang tamu sekaligus kantor oleh Maeda. Di ruangan itulah Soekarno, Hatta dan Ahmad Soerbardjo diterima oleh Laksamana Tadashi Maeda.
Selanjutnya, ruangan kedua merupakan tempat dirumuskannya naskah Proklamasi. Di meja bundar ini, Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo berdiskusi dalam merumuskan naskah Proklamasi. Di ruangan ini pula, teks proklamasi yang asli ditulis tangan oleh Soekarno dengan judul “Proklamasi”.
Ruang ketiga merupakan ruang di bawah tangga, tempat di mana Sayuti Melik mengetikkan naskah Proklamasi Indonesia dengan didampingi oleh B.M. Diah. Di dekat ruangan itu, terdapat sebuah piano yang menjadi tempat di mana Soekarno-Hatta menandatangani naskah Proklamasi Indonesia.
Ruangan terakhir atau ruang pengesahan merupakan tempat disetujuinya konsep naskah Proklamasi oleh seluruh tokoh yang hadir.
Perlu diketahui, museum ini mengusung konsep museum digital. Pengunjung bisa memindai gambar yang ada dengan menggunakan aplikasi. Kemudian gambar tersebut akan berubah menjadi video pemaparan terkait malam perumusan Proklamasi.