Ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali memanas. Namun di tengah gejolak global, pemerintah Indonesia memilih tidak ikut panik.
Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Venezuela selalu menyisakan bayang-bayang risiko bagi pasar energi dunia. Ketidakpastian politik di negara penghasil minyak kerap kali menjadi pemicu gejolak harga dan berpotensi menggoyang stabilitas ekonomi global.
Namun kali ini respons pemerintah Indonesia terbilang tenang. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pasar saham domestik justru menunjukkan penguatan. Investor dinilai masih menaruh kepercayaan pada fondasi ekonomi nasional.
"Kalau saya lihat sih agak jauh, kalau anda lihat pasar saham kan malah naik kan, jadi mereka melihat justru sedikit positif kan, agak aneh sebenarnya. Tapi itu yang dilihat pasar," kata Purbaya.
Hingga saat ini dampak konflik Amerika Serikat-Venezuela dinilai belum terasa signifikan. Harga energi global relatif stabil sehingga risiko bagi inflasi dan beban subsidi masih dapat dikendalikan.
"Itu (konflik AS-Venezuela) masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor, kalau satu-dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi, dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar 63 dolar per barel. Tapi ada antisipasi yang disiapkan oleh pemerintah," jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Meski demikian, kewaspadaan harus tetap dijaga. Pemerintah perlu menyiapkan berbagai instrumen kebijakan jika ketegangan berkembang lebih jauh, terutama jika pasokan minyak dunia terganggu. Cadangan energi, stabilitas fiskal, hingga penguatan sektor keuangan menjadi bagian upaya menjaga ekonomi tetap kokoh.
Analis Energi Fahmy Radhi memberikan peringatan mengenai potensi efek domino yang melibatkan raksasa ekonomi lain, yakni Tiongkok. Menurut Fahmy, jika Amerika Serikat menguasai minyak Venezuela, pasokan ke Tiongkok sebagai importir terbesar bisa terganggu. Hal ini berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas.
"Tiongkok itu impor terbesarnya di Venezuela. Ini pasti akan terganggu kalau minyaknya dikuasai oleh Amerika. Itu yang saya khawatirkan, potensi ketegangan akan meluas dan mendongkrak harga minyak dunia," kata Fahmy.